Indonesia Jadi Negara Pertama Terbitkan Kredit Karbon JCM

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Proses pembekuan ikan menggunakan mesin pendingin efisiensi tinggi di pabrik Karawang. JCM Indonesia Secretariat

    Proses pembekuan ikan menggunakan mesin pendingin efisiensi tinggi di pabrik Karawang. JCM Indonesia Secretariat

    TEMPO.CO, Jakarta - Pembangunan rendah karbon yang menjadi jalan utama bagi upaya mengurangi emisi gas-gas rumah kaca di Indonesia mengalami kemajuan.

    "Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerbitkan kredit karbon penurunan emisi dari skema Joint Crediting Mechanism (JCM)," kata Kepala Sekretariat JCM, Dicky Edwin Hindarto pada Jumat, 13 Mei 2016.

    Kredit karbon pertama yang diterbitkan ini merupakan hasil penurunan emisi dari dua proyek. Pertama, instalasi mesin pendingin efisiensi tinggi pada industri makanan beku yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat.

    Kedua, instalasi mesin pendingin efisiensi tinggi untuk pabrik pengolahan makanan beku yang berlokasi di Karawang.

    Menurut Dicky, kedua proyek ini merupakan hasil kerja sama dari PT Adib Global Food Supplies dan PT Mayekawa Indonesia sebagai  partisipan proyek dari Indonesia. Lalu, Mayekawa Manufacturing Co.,Ltd sebagai partisipan proyek dari Jepang.

    "Jumlah total penurunan emisi yang dihasilkan dari kedua proyek dalam bentuk kredit karbon ini adalah sebesar 40 ton karbon dioksida (CO2)," katanya.  Capaian ini merupakan tonggak bersejarah tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi Jepang.

    JCM atau   Mekanisme   Kredit   Bersama   antara   Indonesia   dan   Jepang merupakan skema kerja sama antar pemerintah. Tujuannya untuk mendorong organisasi-organisasi swasta Jepang bekerja sama dengan organisasi swasta, BUMN, dan pemerintah daerah dalam berinvestasi di kegiatan pembangunan rendah karbon di Indonesia dengan insentif  dana hibah dan subsidi  dari pemerintah Jepang.

    Sejak ditandatanganinya kerja sama bilateral untuk pembangunan rendah karbon antara pemerintah Jepang dan pemerintah Indonesia di tahun 2013, skema JCM berhasil menyalurkan lebih dari US$ 41 juta subsidi kepada pihak swasta Indonesia.  

    Kontribusi pihak swasta Indonesia dalam skema ini mencapai lebih dari US$ 70 juta, sehingga total nilai investasi dalam skema JCM mencapai lebih dari US$ 110 juta.    

    Proyek-proyek dengan pendanaan dari skema JCM Indonesia selain mampu untuk menurunkan emisi nasional dan global juga diharapkan menjadi salah satu tolok ukur dalam upaya pencapaian kriteria pembangunan berkelanjutan di kegiatan mitigasi perubahan iklim.

    Hal ini karena setiap proyek JCM yang diterbitkan kredit karbon sebelumnya harus memenuhi kriteria pembangunan berkelanjutan yang dipersyaratkan.

    Skema   JCM  merupakan   usaha  penting  dan   nyata   dari  pemerintah   Indonesia   yang   bukan   hanya ditujukan untuk pencapaian target Nationally Determined Contribution yang telah disampaikan pada COP 21 di Paris.  "Tetapi juga sebagai upaya peningkatan investasi dan pembangunan rendah karbon di Indonesia," kata Dicky.  

    Sampai saat ini, terdapat 12 negara berkembang yang menandatangani perjanjian kerja sama skema JCM dengan Jepang. Yaitu Indonesia, Vietnam, Mongolia, Palau, Meksiko, Maladewa, Ethiopia, Kosta Rika, Laos, Kamboja, Kenya dan Bangladesh.

    Penurunan emisi yang dihasilkan dari proyek JCM akan diukur menggunakan metode pengukuran, pelaporan dan verifikasi (measurement, reporting and verification/MRV) berstandar internasional yang disetujui oleh kedua negara.

    Besar penurunan emisi  atau kredit karbon, kata Dicky, akan dicatat dan dapat digunakan untuk memenuhi target penurunan emisi Indonesia dan Jepang sesuai pembagian yang disepakati.  

    UNTUNG WIDYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.