Bawaslu Yogya Kebut Bentuk Pengawas Pilkada  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa Aksi Rakyat Jogja Tolak Kembalinya Orde Baru gelar aksi penolakan UU Pilkada di kawasan Titik Nol Kilometer, Yogyakarta, 10 Oktober 2014. TEMPO/Suryo Wibowo.

    Massa Aksi Rakyat Jogja Tolak Kembalinya Orde Baru gelar aksi penolakan UU Pilkada di kawasan Titik Nol Kilometer, Yogyakarta, 10 Oktober 2014. TEMPO/Suryo Wibowo.

    TEMPO.COYogyakarta - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Daerah Istimewa Yogyakarta segera merampungkan fase akhir penetapan pembentukan panitia pengawas pemilihan kepala daerah (pilkada) Kota Yogyakarta dan Kabupaten Kulon Progo. ”Akhir Mei diharapkan terbentuk dan langsung bekerja,” ujar Komisioner Bawaslu Yogyakarta, Sri Rahayu Werdiningsih, Jumat, 13 Mei 2016.

    Untuk masing-masing wilayah, Bawaslu sudah menyaring enam calon yang berhasil melewati 90 persen tahapan. Sisanya, menurut Sri, melewati tahapan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test).

    Percepatan pembentukan panitia pengawas pemilu ini dilakukan menyusul semakin dekatnya tahapan pemilihan kepala daerah yang digelar Komisi Pemilihan Umum pada akhir Mei ini. ”Juga untuk segera mengawasi segala bentuk potensi pelanggaran,” ujarnya.

    Salah satu potensi pelanggaran yang paling kentara menjelang pilkada ini tak lain adalah pemasangan alat peraga yang banyak didominasi bentuk spanduk. Meskipun belum ada satu pun kandidat calon yang ditetapkan partai ataupun KPU, gambar wajah mereka sudah muncul di hampir sejumlah sudut kota. ”Bawaslu belum memiliki kewenangan menertibkan alat peraga itu sebelum terbentuk dan mengantongi regulasi berlaku,” ucapnya.

    Jika terganggu oleh spanduk liar para kandidat, ujar Sri, masyarakat bisa melapor kepada pemerintah daerah untuk menindak dengan menurunkan spanduk itu jika terbukti melanggar peraturan daerah tentang reklame. ”Pemerintah yang berwenang menindak sampai panwaslu terbentuk,” ujarnya.

    Bawaslu mengimbau para kandidat seyogianya tak ngoyo memasang spanduk atau poster mereka sebelum ada tahapan resmi dari KPU. ”Kalau ternyata tak lolos, kan malah malu,” ucap dia.

    Kerabat Keraton Yogyakarta yang juga adik tiri Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Bendoro Pangeran Hario Prabukusumo, mengeluhkan maraknya spanduk para kandidat yang muncul di berbagai sudut Kota Yogya saat ini. ”Iya kalau mereka bener jadi calon, kalau tidak bagaimana? Berpotensi ribut jadinya,” katanya.

    Selain memicu sampah visual, munculnya sejumlah spanduk liar bergambar wajah kandidat dinilai Prabukusumo tidak pas pada tempatnya. Seperti dekat obyek wisata, sekolah, dan ruang publik. Karena itu, dia berharap semua kandidat yang berniat maju tetap menjaga spirit Yogya sebagai kota wisata, pendidikan, dan budaya. Prabukusumo juga mengimbau para kandidat calon kelak memanfaatkan alat peraga yang disediakan KPU. Khususnya saat tahapan kampanye resmi dimulai.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.