Kejaksaaan Yogyakarta Sita Buku Sejarah Gerakan Kiri  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Yayasan LBH Jakarta menggelar jumpa pers di Kantor LBH Jakarta pada Kamis, 12 Mei 2016 untuk menanggapi maraknya kasus pelarangan atribut berbau PKI yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Menurut YLBHI, fenomena mirip yang terjadi di masa orde baru dimana kebebasan berpikir dan berpendapat dapat menjadi masalah hukum. TEMPO/Lucky Ramadhan

    Yayasan LBH Jakarta menggelar jumpa pers di Kantor LBH Jakarta pada Kamis, 12 Mei 2016 untuk menanggapi maraknya kasus pelarangan atribut berbau PKI yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Menurut YLBHI, fenomena mirip yang terjadi di masa orde baru dimana kebebasan berpikir dan berpendapat dapat menjadi masalah hukum. TEMPO/Lucky Ramadhan

    TEMPO.COYogyakarta - Meski Presiden Joko Widodo telah meminta aparat keamanan tidak bertindak berlebihan dalam pencegahan penyebaran paham komunis, Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta tetap menyita sebuah buku yang menjelaskan pertumbuhan aliran kiri di Indonesia.

    Adalah buku berjudul Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk pemula yang disita. Buku setebal 528 halaman ini dinilai telah memutarbalikkan sejarah dan dianggap berbahaya karena banyak mengandung ajaran Partai Komunis Indonesia (PKI). "Arahnya untuk mempengaruhi anak-anak muda soal ajaran itu (komunisme)," kata Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta Joko Purwanto, Jumat, 13 Mei 2016.

    Buku yang diterbitkan Ultimus Bandung 2016 itu ditulis 32 orang atau kelompok. Selain tulisan, di dalamnya ada ilustrasi gambar soal pembantaian sadistis di beberapa wilayah di Indonesia. Buku itu ditemukan dijual di Shopping Center Yogyakarta, awal Mei lalu.

    Buku seharga Rp 200 ribu itu dijual melalui toko-toko buku ataupun secara online. Ilustrasi pembunuhan dan pembantaian orang yang dianggap ikut PKI memang provokatif. Ada gambar orang dimutilasi, ditusuk duburnya menggunakan bambu runcing, serta perempuan ditusuk kemaluan dengan kayu dan dibakar. Bahkan payudara dipotong, lalu dipajang di dinding.

    Diduga buku tersebut sudah banyak beredar di masyarakat. Sebab, para penjual sudah kehabisan buku itu dan hanya melayani pemesanan saja. "Penjual buku itu sudah kehabisan persediaan dan menyediakan pemesanan," tuturnya.

    Ia menambahkan, tidak ada tindakan hukum bagi para penjual buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia itu. Kejaksaan hanya memberi pengertian supaya tidak menjual buku seperti itu lagi. "Kami amankan dulu buku ini dan akan kami laporkan ke Kejaksaan Agung," kata Joko.

    Salah satu penjual buku di Shopping Center Yogyakarta, Hafni, mengaku menjual buku itu. Ia memang hanya menjual buku tanpa ada niat menyebarkan ajaran komunisme. "Soal komunisme, saya tidak setuju. Tepi, dengan membaca buku itu, justru tahu seperti apa dan untuk menambah wawasan, bukan untuk mengikuti. Saya menjual buku supaya orang belajar," tuturnya.

    MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kecelakaan Tol Cipali Dipicu Bus yang Supirnya Diserang Penumpang

    Kecelakanan Tol Cipali melibatkan empat kendaraan beruntun di kilometer 150, Senin dinihari, 17 Juni 2019 dipicu serangan penumpang pada supir.