Desakan HMI ke Saut, KPK: Permohonan Maaf Sudah Cukup  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua KPK terpilih, Alexander Marwata tiba di Gedung KPK, 21 Desember 2015. Pelantikan pimpinan KPK akan berlangsung di Istana Negara. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Wakil Ketua KPK terpilih, Alexander Marwata tiba di Gedung KPK, 21 Desember 2015. Pelantikan pimpinan KPK akan berlangsung di Istana Negara. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Alexander Marwata menanggapi desakan kader Himpunan Mahasiswa Islam yang meminta Saut Situmorang mundur dari jabatan pemimpin KPK. "Mencopot pimpinan kan tidak semudah itu," kata Alex melalui surat elektronik, Rabu, 11 Mei, 2016.

    Alex mengatakan, untuk mencopot seseorang dari jabatannya, terlebih dulu harus diperjelas kesalahan yang dilakukannya. Selain itu, kata dia, ada mekanisme untuk menilai salah atau tidaknya pemimpin KPK. "Kalau itu perbuatan pidana, ya harus lewat pengadilan. Kalau masalah etika, ya harus diperiksa majelis kode etik," kata mantan hakim ad hoc pengadilan tindak pidana korupsi ini.

    Ia mengatakan, sampai saat ini, lembaganya belum berencana melaporkan Saut ke majelis etik KPK. Sebab, menurut Alex, permohonan maaf yang dilontarkan Saut kepada anggota HMI seharusnya sudah cukup untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

    Pada 5 Mei lalu, dalam acara bincang-bincang di salah satu televisi swasta bertajuk "Harga Sebuah Perkara", Saut menyinggung sejumlah kader HMI yang terbukti melakukan korupsi ketika jadi pejabat negara. Berikut kutipan pernyataan Saut: "Lihat saja tokoh-tokoh politik. Itu orang-orang pintar semuanya, cerdas. Saya selalu bilang, kalau dia HMI, minimal dia ikut LK 1, saat mahasiswa itu pintar, tapi begitu menjabat, dia jadi curang, jahat, greedy." LK 1 yang dimaksud Saut merujuk pada Latihan Kader 1 atau jenjang pelatihan dasar di HMI.

    Karena pernyataan tersebut, kader HMI berunjuk rasa di depan gedung KPK, jalan H.M. Rasuna Said, Jakarta Selatan. Rabu siang tadi, mereka kembali berdemo ke KPK. Mereka mendesak KPK memecat Saut dari jabatan sebagai Wakil Ketua Komisi Antikorusi.

    Senin lalu, 9 Mei 2016, Saut menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya tersebut. "Saya selaku pribadi tidak bermaksud menyinggung HMI atau lembaga lain sehingga menimbulkan kesalahpahaman atau persepsi. Untuk itu, saya mohon maaf atas pernyataan tersebut. Sekali lagi saya mohon maaf," kata Saut dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 9 Mei 2016.

    Alex berharap, dengan permintaan maaf itu, HMI tetap mendukung KPK memberantas korupsi. "HMI sebagai organisasi kemahasiswaan berbasis Islam saya yakin mampu membentuk kader berkarakter antikorupsi dan berintegritas tinggi," ucap Alex.

    MAYA AYU PUSPITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.