Soal Atribut PKI, Ketua MPR: Kok Reaktif, Mungkin Anak Muda Mau Gaya...

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan saat menyampaikan kata sambutan pada kunjungannya di kantor Badan Narkotika Nasional (BNN), Cawang, Jakarta Timur, 4 Maret 2016. Pimpinan MPR juga menyuarakan pentingnya penguatan BNN seperti KPK. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan saat menyampaikan kata sambutan pada kunjungannya di kantor Badan Narkotika Nasional (BNN), Cawang, Jakarta Timur, 4 Maret 2016. Pimpinan MPR juga menyuarakan pentingnya penguatan BNN seperti KPK. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan meminta masyarakat tidak terlalu reaktif menyikapi munculnya sejumlah atribut berlambang palu arit yang dianggap sebagai simbol kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI).

    "Kok terlalu reaktif menyikapi soal palu arit, mungkin saja mereka anak muda yang memakai itu hanya untuk gaya-gayaan saja," ujar Zulkifli, dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 10 Mei 2016.

    Zulkifli menilai peristiwa ini harus disikapi dengan tenang, dan tidak sembarang mengambil langkah atau tindakan hukum. "Banyak kan anak muda yang menggambar apa saja walaupun tidak mengerti maknanya hanya untuk gaya," katanya lagi.

    Masyarakat sebelumnya sempat dihebohkan oleh beredarnya informasi akan adanya pembagian ratusan ribu kaus sablonan berlambang palu arit, lambang PKI. Tak hanya kaus, sebuah buku yang diduga berbau paham komunis pun ditemukan pekan lalu di daerah Kramat Jati, Jakarta Timur. Buku berjudul Palu Arit di Ladang Tebu itu pun akhirnya disita petugas Komando Distrik Militer Jakarta Timur. 

    Zulkifli mengatakan jika terbukti pemakaian atribut tersebut disebabkan oleh ketidakpahaman, yang dibutuhkan adalah pemberian penyuluhan. "Jika hanya gaya-gayaan saja, dipanggil lalu diberikan penyuluhan dan pemahaman," ujarnya lagi.

    Namun, menurut Zulkifli, jika memang pemakaian atribut dilakukan dengan niatan menyebarkan pemahaman komunis dengan sengaja, maka perlu ditindak serius. Sebab, hal ini bertentangan dengan nilai Pancasila yang luhur.

    "Jika itu kesengajaan maka diproses saja sesuai hukum yang berlaku," kata Zulkifli.

    GHOIDA RAHMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kecelakaan Tol Cipali Dipicu Bus yang Supirnya Diserang Penumpang

    Kecelakanan Tol Cipali melibatkan empat kendaraan beruntun di kilometer 150, Senin dinihari, 17 Juni 2019 dipicu serangan penumpang pada supir.