Saat Luhut Disebut-sebut: Kalau Saya Suka Novanto, Kan...  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan membuka acara Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 di Jakarta, 18 April 2016. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia telah mengumumkan bukti-bukti pelanggaran HAM berat peristiwa itu pada 2012. Kajian akademik pun telah dilakukan berbagai kalangan. TEMPO/Subekti

    Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan membuka acara Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 di Jakarta, 18 April 2016. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia telah mengumumkan bukti-bukti pelanggaran HAM berat peristiwa itu pada 2012. Kajian akademik pun telah dilakukan berbagai kalangan. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan membantah kabar bahwa dirinya mendukung Setya Novanto sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar. Namun ia tak membantah memiliki kedekatan dengan mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat tersebut.

    "Kalau saya suka Setya Novanto, kan enggak apa," ujar Luhut di Jakarta, Senin, 9 Mei 2016.

    Luhut disebut-sebut sebagai politikus Golkar dari kubu lawan Setya yang menyokong penuh pencalonan Setya. Ketua Generasi Muda Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia mengungkapkan, isu Setya sudah menjadi ketua umum secara de facto beredar luas di kalangan kader Golkar pada beberapa hari terakhir. Bahkan, dalam beberapa isu yang ia dengar, dikatakan bahwa Munaslub nanti hanya akan menjadi formalitas untuk ketok palu penetapan Setya.

    SIMAK:
    Presiden Jokowi Menanggapi Setoran Rp 1 Miliar di Golkar
    Disebut Dukung Novanto Ketua Golkar, Luhut: Itu Kan Kalau


    Ahmad menambahkan, isu yang beredar juga menyebutkan Setya didukung oleh salah satu menteri yang disebut dalam kasus Papa Minta Saham. Dalam kasus itu, Setya meminta saham kepada Freeport sebagai syarat perpanjangan kontrak karya tersebut. Nama menteri yang terseret adalah Menteri Luhut Binsar Pandjaitan.

    Munas Luar Biasa Golkar digelar di Nusa Dua, Bali, untuk menentukan ketua umum pengganti Aburizal Bakrie. Pergelaran akbar yang diperkirakan menelan biaya Rp 67 miliar itu akan berlangsung selama tiga hari, 15-17 Mei 2016.

    Mereka yang akan bertarung memperebutkan kursi ketua umum, selain Setya, adalah Aziz Syamsuddin, Mahyudin, Ade Komarudin, Syahrul Yasin Limpo, Airlangga Hartarto, Indra Bambang Utoyo, dan Priyo Budi Santoso.

    SIMAK: Wapres JK: Presiden Jokowi Marah Dicatut Dukung Setnov

    Luhut melanjutkan, dirinya memang sudah ditemui oleh Setya terkait dengan Munaslub. Namun Luhut memastikan tidak akan mendukung siapa pun yang menjadi calon Ketua Umum Golkar.

    "Dan saya enggak pernah bilang akan mendukung Setnov. Yang lain (calon ketua umum) juga sudah datang ke saya. Mereka teman saya, ya iya," ujar Luhut. Luhut enggan menyebutkan siapa saja calon Ketua Umum Golkar yang sudah menemuinya.

    Terkait dengan isu lain yang menyatakan dirinya mewakili Istana Kepresidenan untuk mendukung Setya Novanto, Luhut juga membantah. Hal itu pun, dia mengatakan, sudah dijelaskan kepada Presiden Joko Widodo. "Lha, tadi saya baru saja ngobrol sama Presiden (soal isu dukungan)," ujar Luhut mengakhiri.

    ISTMAN M.P.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK Terkait Sengketa Pilpres 2019 Berlangsung Dua Pekan

    Sidang MK terkait sengketa Pilpres 2019 memasuki tahap akhir. Majelis hakim konstitusi akan membacakan putusannya pada 27 Juni. Ini kronologinya.