Wapres JK: Perlu Persatuan Hadapi Radikalisme

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla tertawa saat bersiap menerima kunjungan kehormatan dari Deputi Perdana Menteri Turki Numan Kurtulmus (kiri) di sela-sela  KTT LB Ke-5 OKI mengenai Palestina dan Al-Quds Al-Sharif di JCC, Jakarta, 7 Maret 2016. ANTARA FOTO/OIC-ES2016

    Wakil Presiden Jusuf Kalla tertawa saat bersiap menerima kunjungan kehormatan dari Deputi Perdana Menteri Turki Numan Kurtulmus (kiri) di sela-sela KTT LB Ke-5 OKI mengenai Palestina dan Al-Quds Al-Sharif di JCC, Jakarta, 7 Maret 2016. ANTARA FOTO/OIC-ES2016

    TEMPO.CO, Jakarta ---Wakil Presiden Jusuf Kalla menyerukan persatuan pada negara-negara Islam di dunia. Langkah ini dilakukan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi dunia Islam, termasuk radikalisme dan terorisme.

     "Masalah-masalah di dunia Islam tidak semudah menyelesaikan seperti di konferensi, tapi butuh persatuan dan kekuatan kita semua," kata Kalla, Senin, 9 Mei 2016, saat membuka International Summit of The Moderate Islamic Leader (ISOMIL) di Jakarta Convention Center, Jakarta.

    Kalla mengatakan pentingnya dunia Islam menerapkan ajaran Islam moderat. Sebagai agama, Islam memiliki prinsip rahmatan lil alamin, yang memberikan rahmat bagi semua alam, memberi kebaikan, dan mempersatukan seluruh umatnya. "Itulah yang menjadi tujuan dan cita-cita kita semuanya," kata Kalla.

    Sebagai negara dengan penduduk hampir 90 persen muslim, kata Kalla, Indonesia bersyukur masyarakat Indonesia menjalankan ajaran Islam yang moderat. Penerapan ajaran Islam moderat ini membuat persatuan yang baik meskipun mempunyai banyak perbedaan-perbedaan dari sisi pemeluknya. Hanya dengan paham yang saling menghargai, masyarakat Islam dapat mempererat persatuan.

    Namun, kata Kalla, belakangan ini kondisi yang dilamai umat Islam selalu diliputi kesedihan. Tiap hari yang terlihat adalah bom, perang, dan konflik di berbagai negara-negara Islam. Kalau di zaman Rasulullah umat Islam berhijrah dari Mekah ke Madinah untuk mencari kebaikan dan persatuan, sehingga tercipta masyarakat Islam yang baru, hari ini yang terjadi adalah orang-orang Islam yang hijrah dari negara Islam ke negara-negara non-Islam di Eropa. "Sungguh tragis memang apa yang terjadi hari ini, dan semua itu tentu bagian apa yang harus kita selesaikan, bukan hanya dibicarakan di kalangan kita semua," kata Kalla.

    Pertemuan ISOMIL akan berlangsung hingga Selasa, 10 Mei mendatang. Pertemuan ini dihadiri sekitar 115 para ulama dan perwakilan dari 35 negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menjadi tuan rumah pertemuan yang mengangkat tema Islam Nusantara: Inspirasi dan Solusi untuk Peradaban Dunia.

    Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin mengatakan konfrensi internasional ulama moderat ini memiliki peran penting dalam menjaga gerakan dan kegiatan dakwah moderat (tawashutiyyah) di dunia, terutama saat ini dimana gerakan dakwah ekstrimis telah menyebar luas. "Jika kita melihat kenyataan lapangan saat ini kita akan menemukan dua macam kelompok ekstrem," kata Ma'ruf Amin. Kelompok pertama, kata Ma'ruf, adalah kelompok garis keras yang kaku dan sangat tekstualis dengan tanpa menghirauan Maqashid As-Syariah (tujuan adanya syari'ah). Selain kaku, mereka juga menampilkan Islam dengan wajah yang garang, sehingga membawa umat pada kesulitan.

    Sementara kelompok kedua merupakan kebalikan dari itu. Mereka menggampangkan semua aturan agama seakan tidak ada ketetapan dalam Islam dan bahwa semua ajaran agama dapat di tinjau ulang. Di tangan mereka, kata Ma'ruf, agama menjadi lunak dan lembek yang dapat mereka bentuk sesuai keinginan. Mereka menolak fiqh, ushul, dan para imamnya, dan bermain-main dengan hadits dan mengingkari bahkan mengacuhkan Al-Quran dan tafsirnya.

    "Kedua kelompok ini merupakan gambaran kelompok yang berlebihan yang tersebar luas di banyak negara Islam," kata Ma'ruf. Mereka menggunakan media informasi modern dalam upayanya menipu sebagain besar umat Islam, terutama pemudanya. Untuk membatasi kelompok ini, kata dia, seyogyanya para ulama juga menggunakan media informasi lainnya.

    Dakwah Islam moderat, kata Ma'ruf, merupakan dakwah keberagamaan yang menjaga kemudahan bukan menyulitkan, memberi kabar gembira bukan hanya menakut-nakuti, dengan lemah lembut bukan kasar, saling mengenal bukan menjauhkan, toleransi bukan fanatisme golongan, isi bukan bungkus, yang menerima pembaharuan tidak kaku, jelas tidak kabur, moderat bukan berlebihan dan menggampangkan (fundamentalis dan liberal). "Kehadiran kita pada konfrensi internasional ISOMIL ini bertujuan untuk menjaga gerakan dakwan moderat di lingkungan kita masing-masing sehingga tercipta umat Islam yang moderat di seluruh penjuru dunia dan negara Islam," kata Ma'ruf.

    AMIRULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.