Istri Bekas Sandera Abu Sayyaf Trauma Bila Suami Melaut Lagi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sepuluh pelaut Indonesia yang dibebaskan oleh Abu Sayyaf makan bersama di kediaman Gubernur Sulu, Abdusakur Tan II. globalnation.inquirer.net

    Sepuluh pelaut Indonesia yang dibebaskan oleh Abu Sayyaf makan bersama di kediaman Gubernur Sulu, Abdusakur Tan II. globalnation.inquirer.net

    TEMPO.CO, Kendari - Idawati, isteri Suryansyah, bekas sandera kelompok militan Abu Sayyaf  bahagia suaminya  bebas. Perempuan berkerudung warga Kendari, Sulawesi Tenggara ini mendapat kabar bahwa para sandera  dibebaskan pada Minggu lalu. Namun, dia masih trauma bila mengingat peristiwa penyanderaan itu.

    Idawati mengaku sudah mendapat firasat suaminya bakal dibebaskan. Dia bermimpi suami dan anak-anaknya datang ke rumahnya di Jalan Ade Irma Suryani Nasution, Perumahan Bukit Kartika, Kelurahan Watubangga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari. “Alhamdulillah doa saya diijabah," ujar Idawati, Selasa, 3 Mei 2016.

    Suryansyah dan Idawati menikah pada 2007. Mereka dikaruniai dua orang anak,  Adnansyah Suriyansah, 8 tahun, serta Azzah Aisiyah Suriyansah, 6 tahun. Suryansyah sendiri merupakan lulusan Sekolah Akademi Kemaritiman. Dia menyelesaikan studinya pada 2009.

    Menurut Idawati, setelah menjadi pelaut suaminya telah berlayar ke beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Cina. "Suami saya pamit terakhir pada Oktober 2015," ujar dia.

    Saat mendapat kabar suaminya disandera, Idawati sangat sedih. "Saya memang dengar berita penyanderaan itu. Tapi awalnya tidak berpikir bahwa itu kapal suami saya," tuturnya.

    Di mata istrinya, Suryansyah dikenal sebagai sosok yang penyayang dan perhatian kepada keluarganya, terutama kepada anak-anaknya. “Saya masih trauma kalau (melepaskan) suami kembali pergi melaut,” tuturnya.

    ROSNIAWANTY FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.