Kisah Koki Kapal Brahma 30 Hari Disandera Militan Abu Sayyaf

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anak buah kapal (ABK) WNI korban sandera militan Abu Sayyaf, berjabat tangan dengan perwakilan Pemerintah saat tiba di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, 1 Mei 2016. Sepuluh orang ABK yang hampir satu bulan ditawan akhirnya dibebaskan lewat jalan negosiasi. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Sejumlah anak buah kapal (ABK) WNI korban sandera militan Abu Sayyaf, berjabat tangan dengan perwakilan Pemerintah saat tiba di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, 1 Mei 2016. Sepuluh orang ABK yang hampir satu bulan ditawan akhirnya dibebaskan lewat jalan negosiasi. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Wandi Rahardian, 28, merupakan satu dari sepuluh warga Indonesia yang disandera kelompok militan Abu Sayyaf. Sebelum disandera, ia bertugas sebagai koki di kapal Brahma 12, tempatnya bekerja.

    Ditemui setelah pembebasannya beserta sepuluh anak buah kapal Brahma yang disandera Abu Sayyaf, Wandi menceritakan pengalamannya 30 hari menjadi sandera kelompok milisi bersenjata, yang bermarkas di Filipina Selatan itu.

    Pada 26 Maret 2016, kelompok Abu Sayyaf menyambangi kapal Brahma menggunakan kapal boat bermuatan sepuluh anggota militan bersenjata lengkap. "Saat itu awak kapal tidak melakukan perlawanan," ujar Wandi di gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin, 2 Mei 2016.

    Selama disandera, Wandi menuturkan ia bersama sembilan rekan kerjanya mendapat perhatian khusus dari para penyandera Abu Sayyaf. Tidak ada perlakuan kasar atau kekerasan dari para penyandera. "Mereka baik-baik saja," katanya.

    Bahkan, untuk makan pun, Wandi mengaku diperlakukan dengan baik, meski waktunya tidak teratur. Makanan untuk penyandera dan orang yang disandera pun tidak dibedakan. "Apa yang mereka makan, kami pun makan," ucap Wandi.

    Selama disandera, baik yang disandera maupun penyandera tidak menetap di satu tempat. Sandera kerap dipindahkan dari satu hutan ke hutan lainnya. "Kami biasanya pindah setiap malam," ujarnya.

    Sepuluh warga Indonesia, yang bekerja sebagai anak buah kapal Brahma 12 dan Anand 12, diculik di perairan Filipina selatan. Abu Sayyaf meminta tebusan kepada pemerintah Indonesia sebanyak 50 juta peso atau setara dengan Rp 13,5 miliar. Mereka dilepaskan kemarin, 1 Mei 2016.

    ABDUL AZIS

    Baca juga:
    Ahok Buka Rahasia Mundurnya Rustam Effendi, Ternyata...

    PDIP Siapkan Risma Tantang Ahok, Ada yang Menghindar?

    BERITA MENARIK
    Jurnalis Prancis Menyusup ke Markas ISIS, Ini Temuannya
    Ahok Buka Rahasia Mundurnya Rustam Effendi, Ternyata...

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.