Hari Pendidikan Nasional Ratusan Profesional Turun jadi Relawan Pendidikan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para relawan pengajar Kelas Inspirasi Jakarta 5 di SDN Kebon Kosong 09 Pagi, Kemayoran, Jakarta. TEMPO/Aisha Shaidra

    Para relawan pengajar Kelas Inspirasi Jakarta 5 di SDN Kebon Kosong 09 Pagi, Kemayoran, Jakarta. TEMPO/Aisha Shaidra

    TEMPO.CO, Jakarta--Siswa SDN Kebon Kosong 09 Pagi Kemayoran berlarian menuju lapang. Berseragam putih-putih, berbaris sesuai kelasnya masing-masing. Sebagian menempati posisi sebagai petugas upacara, sebagian lain ada di deretan paduan suara lengkap dengan pianika di tangan.

    Upacara Hari Pendidikan Nasional dilaksanakan hari ini. Lain dengan hari biasanya, kegiatan belajar mengajar pun tak seperti hari-hari sebelumnya. Usai upacara para siswa diperkenalkan dengan sekelompok pekerja profesional yang bekerja lintas profesi. SDN Kebon Kosong 09 Pagi adalah satu dari sekitar 50 sekolah di Jakarta yang dikunjungi puluhan tim relawan profesional Kelas Inspirasi Jakarta Tahun ini. "Saya ingin berbagi ke anak-anak kalau ada profesi geologist yang keren di dunia kerja. Dan harapannya bisa menginspirasi anak-anak," ujar Dessy Widyasti Sapardina, 33 Tahun selaku ketua kelompok relawan yang mengisi kelas-kelas di SDN Kebon Kosong 09 Pagi kepada Tempo.

    Alasan lain yang mendorong Dessy ingin terlibat adalah adanya kesadaran soal pemenuhan pendidikan anak indonesia adalah tugas setiap individu. Sehingga menurutnya dengan berbagi informasi kepada anak-anak SD bisa jadi salah satu hal kecil yang dapat dilakukan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain Dessy yang berprofesi sebagai seorang geologist, ada juga beragam profesi lain yang dikenalkan seperti akuntan, bidan, humas, human resource development, pengacara, arsitek, dan lain-lain. Banyak profesi yang selama ini digeluti kaum dewasa dan masih terdengar asing bagi anak-anak.

    Kegiatan tersebut disambut baik oleh pihak sekolah. Salah satu pengajar SDN Kebon Kosong 09, Aam mengatakan siswa-siswa di sekolahnya sangat memerlukan adanya kunjungan semacam ini agar dapat semangat melanjutkan sekolah. Lingkungan tinggal kebanyakan siswa Kebon Kosong 09 Pagi menurutnya kurang kondusif untuk belajar. Orang tua siswa tak banyak yang mendorong anak-anaknya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. "Pekerjaan orang tuanya rata-rata tukang cuci, tukang ojek, dan pedagang," kata Aam. Namun menurutnya para siswa kerap antusias tatkala mendapatkan pengalaman baru. Mereka akan berlomba cari perhatian dan bertanya macam-macam.

    Natalia Christian Tampubolon selaku ketua Kelas Inspirasi Jakarta 5 menuturkan gerakan ini penting sebagai wujud langkah untuk mengenalkan profesi, menginspirasi siswa, serta mengenalkan cerita inspiratif agar mereka terdorong untuk memiliki cita-cita tinggi sebagai penerus bangsa. "Kita harus terus menjaga mimpi mereka dan memberikan harapan kepada mereka kalau mereka layak menggapai mimpi mereka walau latar belakang ekonomi mereka kurang," ucap Natalia.

    Natalia melanjutkan, semangat KI kali ini membuat ruang partisipatif yang tepat sasaran untuk para relawan terpilih. Artinya, sekolah yang akan menjadi tempat pengajaran relawan memang betul-betul membutuhkan inspirasi, baik karena sekolahnya adalah sekolah inklusi, pelajar berkebutuhan khusus atau berasal dari keluarga golongan menengah ke bawah.

    Kelas Inspirasi digagas pertama kali pada 2012 oleh beberapa Relawan dari kalangan profesional dan Tim Indonesia Mengajar (IM). Memasuki tahun keempat Kelas Inspirasi terlihat makin diminati banyak kalangan yang peduli terhadap dunia pendidikan. Kelas Inspirasi Jakarta yang kelima (#KIJKT5) dilaksanakan hari ini bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Sebanyak 880 relawan pengajar, 220 relawan dokumentasi dan 89 relawan fasilitator berpartisipasi di 58 sekolah dasar dan 1 SLB menengah atas marjinal yang memenuhi kriteria untuk disambangi dengan sebaran wilayah sebagai berikut: Jakarta Barat 9 sekolah, Jakarta Pusat 25 sekolah, Jakarta Selatan 6 sekolah, Jakarta Timur 7 sekolah dan Jakarta Utara 12 sekolah.

    AISHA SHAIDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?