Jumat, 16 November 2018

Demo Mahasiswa UGM, Ini Tuntutan Demonstran kepada Rektor  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan mahasiswa Universitas Gadjah Mada berunjuk rasa menentang berlakunya parkir berbayar di kawasan kampus UGM Yogyakarta, Jumat (28/8). Hal ini dinilai sebagai gaya komersialisasi pendidikan. Foto: TEMPO/Ari Wibowo

    Ratusan mahasiswa Universitas Gadjah Mada berunjuk rasa menentang berlakunya parkir berbayar di kawasan kampus UGM Yogyakarta, Jumat (28/8). Hal ini dinilai sebagai gaya komersialisasi pendidikan. Foto: TEMPO/Ari Wibowo

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Sekitar seribu mahasiswa Universitas Gadjah Mada menggelar unjuk rasa dalam rangka Hari Pendidikan Nasional di gedung rektorat dengan mengajukan berbagai macam tuntutan, Senin, 2 Mei 2016. Aksi mahasiswa yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa UGM itu menyuarakan penolakan kenaikan uang kuliah tunggal dan pembayaran uang pangkal serta menuntut pencairan dana tunjangan kinerja bagi PNS tenaga kependidikan (nondosen) selama 18 bulan.

    Selain mengajukan tuntutan yang berhubungan dengan kegiatan akademik, mahasiswa memprotes relokasi pedagang kantin di salah satu fakultas. “Aksi ini merupakan bentuk keprihatinan mahasiswa terhadap berbagai masalah di UGM,” kata juru bicara Aliansi Mahasiswa UGM, Umar Abdul Aziz.

    Wakil Rektor UGM Bidang Akademik Iwan Dwiprahasto berujar, Rektor Dwikorita Karnawati hanya mau memberikan tiga jawaban kepada perwakilan mahasiswa di gedung rektorat atau Balairung UGM. Namun dia tak menjelaskan jawaban yang akan disampaikan Rektor UGM. Mayoritas mahasiswa menghendaki Dwikorita dan pimpinan UGM menemui ribuan peserta aksi di halaman depan Balairung.

    Peserta negosiasi, yang semula belasan mahasiswa, menjadi membludak sampai ratusan. Suara teriakan juga selalu muncul dari mahasiswa ketika tak suka dengan ucapan Dwikorita.

    ADDI MAWAHIBUN IDHOM



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.