Pembebasan 10 WNI dari Abu Sayyaf Dilakukan Lewat Negosiasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kivlan Zen, saat berkunjung di kantor redaksi Majalah TEMPO, Jln Proklamasi No 72, Jakarta Pusat, 4 Oktober 2006. TEMPO/Cheppy A. Muchlis

    Kivlan Zen, saat berkunjung di kantor redaksi Majalah TEMPO, Jln Proklamasi No 72, Jakarta Pusat, 4 Oktober 2006. TEMPO/Cheppy A. Muchlis

    TEMPO.COJakarta - Sebanyak 10 dari 14 sandera yang disekap oleh kelompok separatis Filipina, atau dikenal dengan Abu Sayyaf, sudah dibebaskan. Mereka adalah awak kapal tugboat Brahma 12 dan tongkang Anand.

    Mayor Jenderal (Purnawirawan) Kivlan Zein, salah satu negosiator yang ikut dalam upaya pembebasan sandera tersebut, mengatakan proses serah-terima dilakukan di sebuah pantai di selatan Pulau Mindanau. Serah terima itu dilakukan pada pukul 12.00 waktu setempat.

    "Dengan juga melibatkan perwakilan dari kedua negara dan satu tokoh yang cukup disegani oleh kelompok Abu Sayyaf," kata Kivlan, saat dihubungi dari Mindanau, Ahad, 1 Mei 2016.

    Dia juga mengatakan proses serah terima-sandera itu tidak menggunakan uang tebusan meski PT Patria Maritime Lines sudah menyiapkan uang yang ditaruh dalam tas saat proses serah-terima.

    "Buat jaga-jaga kalau tiba-tiba mereka berubah pikiran," kata Kivlan. Proses pembebasan itu dibantu oleh pihak militer, badan intelijen, dan pasukan perdamaian Filipina Selatan.

    Kivlan mengatakan negosiasi pembebasan sandera menjadi mulus lantaran melibatkan Gubernur Zulu Abdsakur Toto Tan II. Toto merupakan keponakan dari pimpinan Moro National Liberation Front (MNLF), Nur Misuari. Kelompok Abu Sayyaf merupakan sempalan dari kelompok MNLF yang memilih berdamai dengan pemerintah Filipina.

    Kivlan pernah bertugas sebagai pasukan perdamaian Filipina Selatan pada 1995-1996. Pada saat tugas itu, dia mengenal Nur Misuari dengan sangat baik. Keakraban itulah yang kemudian digunakan Kivlan untuk melobi kelompok Abu Sayyaf agar membebaskan WNI yang disandera.

    Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah Nur Misuari segera menghubungi Toto agar bernegosiasi dengan kelompok militan Abu Sayyaf. Negosiasi pertama dilakukan pada akhir Maret, tak lama setelah 10 sandera itu disekap.

    Negosiasi itu juga melibatkan petinggi perusahaan Patria Maritime dan intelijen Filipina. "Kemudian direspons oleh badan intelijen strategis TNI dan terjadi komunikasi," kata Kivlan.

    Seringnya negosiasi yang dibantu oleh pemerintah Filipina, bekas militan MNLF, dan beberapa organisasi lainnya, akhirnya pada 1 Mei, 10 sandera itu dibebaskan.

    "Sekarang kami sedang mencoba negosiasi untuk membebaskan empat sandera yang masih ditahan," ujar Kivlan. Empat sandera yang masih ditahan itu adalah awak kapal lain.

    REZA ADITYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.