16 Ribu Aparat Gabungan Jaga Hari Buruh di Jakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ANTARA/Mohamad Hamzah

    ANTARA/Mohamad Hamzah

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekitar 16.000 personel gabungan dari Polda Metro Jaya, TNI dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mengamankan peringatan Hari Buruh di wilayah Jakarta pada Minggu 1 Mei 2016.

    "Untuk mengamankan kegiatan ini, Polda Metro Jaya melibatkan personel dari TNI, Satpol PP, Dinas Perhubungan dan lainnya," kata Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Moechgiyarto di Jakarta, Jumat, 29 April 2016.

    Moechgiyarto menegaskan Polda Metro Jaya selaku penanggung jawab keamanan dan ketertiban masyarakat berkewajiban mengatur kegiatan peringatan "May Day" itu.

    Diungkapkan jenderal polisi bintang dua itu, aparat keamanan merencanakan sistem pengamanan melalui perencanaan, rapat koordinasi melibatkan instansi terkait dan pimpinan serikat pekerja.

    "Untuk menyikapi dan menyamakan persepsi bagaimana penyelenggaraannya," ujarnya.

    Mantan Kapolda Jawa Barat itu berharap para buruh yang berorasi tidak mengganggu keamanan dan hak masyarakat lain yang beraktivitas di sekitar lokasi aksi.

    Berdasarkan hasil koordinasi dengan pimpinan buruh, Moechgiyarto menuturkan pengunjuk rasa akan menyampaikan pendapatnya 100 meter dari pagar Istana Merdeka, Gedung DPR/MPR RI, Patung Kuda dan lokasi lainnya.

    Kapolda Metro Jaya mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir dengan rencana peringatan Hari Buruh dan tetap menjalankan kegiatan seperti biasa.

    "Masyarakat diharapkan tetap seperti biasanya, tidak perlu dikhawatirkan karena ini peringatan Hari Buruh se-Dunia berjalan seperti biasa," ujarnya.

    Moechgiyarto juga menjelaskan para pimpinan buruh berjanji akan tertib dan tidak mengganggu kepentingan masyarakat lainnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.