WNI Disandera Abu Sayyaf, Panglima TNI: Akan Ada Diplomasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hamsiar, bibi dari Renaldi alias Aldi (25) salah satu awak Kapal Brahma 12 yang disandera kelompok milisi bersenjata Abu Sayyaf di Filipina diwawancarai di rumahnya di Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan, 8 April 2016. ANTARA FOTO

    Hamsiar, bibi dari Renaldi alias Aldi (25) salah satu awak Kapal Brahma 12 yang disandera kelompok milisi bersenjata Abu Sayyaf di Filipina diwawancarai di rumahnya di Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan, 8 April 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Pangkalpinang - Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan pemerintah dalam waktu dekat akan melakukan diplomasi khusus untuk menyelamatkan 14 warga negara Indonesia (WNI) yang masih disandera kelompok teroris Abu Sayyaf di Filipina. Namun dia tidak menyebutkan bentuk diplomasi apa yang akan dilakukan.

    "Tunggu saja dalam waktu dekat. Diplomasi untuk mengambil sandera. Namun yang pasti tidak akan membayar tebusan karena kita dan pemerintah Filipina sudah sepakat," ujar Gatot kepada wartawan seusai membuka kegiatan Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) ke-36 di Stadion Depati Amir Kota Pangkalpinang, Rabu, 27 April 2016.

    Gatot mengatakan, meski tidak akan memenuhi tuntutan kelompok Abu Sayyaf, Presiden Jokowi dan pihak terkait sudah menyatakan bahwa keselamatan para sandera menjadi prioritas utama. "Upaya diplomasi dilakukan dengan mengumpulkan informasi intelijen dari TNI, Kepolisian, dan pemerintah Filipina. Kami sudah bekerja sama dengan berbagai pihak," ujarnya.

    Baca juga: MILF dan MNLF Diminta Bantuan Berangus Abu Sayyaf

    Menurut Gatot, pasukan TNI akan tetap disiagakan di daerah perbatasan yang terdekat dan sudah siap menunggu perintah lebih lanjut. "Meski sudah siap, kita harus patuh pada aturan di Filipina. Memang undang-undang di Filipina tidak mengizinkan angkatan bersenjata asing masuk ke daerah mereka. Jadi kita tunggu seperti apa dalam waktu dekat ini," katanya.

    Kelompok Abu Sayyaf diduga bertanggung jawab atas penyanderaan kapal tunda (tugboat) Henry dan kapal tongkang Cristi di perairan perbatasan Malaysia dan Filipina pada Jumat lalu. Dalam penyanderaan sepuluh WNI pada akhir Maret lalu, kelompok tersebut menuntut tebusan hingga 50 juta peso atau Rp 14,3 miliar. Pemerintah Indonesia menolak terlibat dalam pemenuhan tebusan itu.

    Sejak 2004, dalam berbagai kasus penyanderaan, baik yang diliput media maupun tidak, proses pembebasan paling cepat adalah tiga bulan. Sebagian besar berlangsung selama enam bulan-dua tahun.

    SERVIO MARANDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peta Bencana Sejumlah Sudut Banjir Jakarta di Akhir Februari 2020

    Jakarta dilanda hujan sejak dini hari Rabu, 25 Februari 2020. PetaBencana.id melansir sejumlah sudut yang digenangi banjir Jakarta hingga pukul 15.00.