Ini Cara Anggota Kelompok Santoso dari Uighur Masuk ke RI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemimpin kelompok teror Mujahidin Indonesia Timur, Santoso alias Abu Wardah, bergaya selfie di tempat persembunyiannya. Foto: Istimewa

    Pemimpin kelompok teror Mujahidin Indonesia Timur, Santoso alias Abu Wardah, bergaya selfie di tempat persembunyiannya. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Republik Indonesia mengatakan ada bukti keterlibatan warga negara asing dalam kelompok Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso alias Abu Wardah di Poso, Sulawesi Tengah. Orang itu diketahui bernama MF dan tewas ketika menyerang Satuan Tugas (Satgas) Operasi Tinombala.

    "Ada satu yang dijumpai petugas membawa parang, orang itu bernama MF berasal dari suku Uighur, Cina. Ketika diminta menaruh parang dia menolak malah menyerang petugas, sehingga petugas harus menembak orang tersebut hingga meninggal," ujar Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar, Rabu, 27 April 2016.

    Boy mengatakan polisi sempat mengiranya sebagai warga negara Turki. Namun ketika dikonfirmasi ke kedutaan diketahui bahwa orang tersebut berasal dari Uighur, Cina. "Mereka pakai identitas resmi layaknya orang asing lainnya yang datang ke Indonesia. Yang enggak biasa ya kegiatan mereka yang ikut aksi terorisme," ujar Boy Rafli.

    Ahad kemarin, Satgas Operasi Tinombala menembak mati seorang anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso alias Abu Wardah di Poso, Sulawesi Tengah. "Terjadi baku tembak dan satu anggota Santoso tertembak mati," kata juru bicara Mabes Polri, Brigadir Jenderal Agus Rianto, Senin, 25 April 2016.

    Agus menjelaskan, kejadian ini berawal saat anggota Intelijen Kepolisian Sektor Poso Pesisir Selatan, Brigadir Ardi, melihat lima orang tak dikenal melintas di Desa Patiwunga, Lorong Gereja. Ardi mengajak rekannya, Brigadir Warno, mengecek situasi dan membuntutinya.

    Ketika ditanya hendak ke mana, seorang dari mereka justru mengayunkan parang ke arah anggota. "Karena diserang, kami berusaha melumpuhkan yang bersangkutan," ujarnya. Saat itulah mereka melawan. Empat orang lainnya lolos saat hendak dibekuk.

    "Peristiwanya malam hari sehingga (kami) kesulitan untuk pengejaran lebih lanjut," kata Agus.

    ARIEF HIDAYAT | INGE KLARA SAFITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.