Melirik Gojek, Kalla Terpikat Aplikasi Teknologi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Wakil Presiden Jusuf Kalla saat mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, 25 April 2016. Dari lawatan ke empat negara Eropa, total investasi yang bisa diboyong ke Indonesia mencapai US$ 20,5 miliar atau setara Rp 266,5 triliun. TEMPO/Subekti.

    Ekspresi Wakil Presiden Jusuf Kalla saat mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, 25 April 2016. Dari lawatan ke empat negara Eropa, total investasi yang bisa diboyong ke Indonesia mencapai US$ 20,5 miliar atau setara Rp 266,5 triliun. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta -- Diam-diam Wakil Presiden Jusuf Kalla memperhatikan penggunaan aplikasi online oleh penyedia jasa transportasi Gojek. Kalla mendorong penerapan teknologi untuk membantu jalannya pemerintahan.

    "Tadi saya bicara dengan beberapa menteri terkait, Mendagri, Menkominfo, Menpan, kalau Gojek saja bisa mengatur ojek di mana-mana, masa kami tidak bisa mengatur aparat kerja pemerintahan," kata Kalla, Senin, 26 April 2016, saat peluncuran Institute Otonomi Daerah di Hotel Grand Sahid, Jakarta.

    Kalla meminta aplikasi standar yang bisa dipakai di pemerintahan. Sebab, sistem pemerintahan semuanya sama, ada walikota, wakil walikota, sekretaris daerah, kepala dinas, dan sebagainya. Aplikasi itu nantinya tinggal menggabungkan berbagai aspek saja, misalnya program yang menghubungkan ke rakyat. Melalui aplikasi ini, persoalan sampah yang mengotori lingkungan bisa langsung ditindaklanjuti. "Tidak perlu lagi menghadap, tapi tinggal kontak melalui teknologi," kata Kalla.

    Aplikasi teknologi seperti itu, kata Kalla, bisa membantu jalannya pemerintahan. Ini seperti berlaku di Amerika maupun Jepang dengan konsep smart city. Penggunaan aplikasi akan memudahkan dan biayanya lebih murah. "Ada efisiensi, kontrol masyarakat, ada transparansinya, DPR dan masyarakat juga bisa melihat kinerjanya," kata Kalla.

    Menurut Kalla, penggunaan aplikasi teknologi menjadi bagian dari otonomi daerah. Otonomi dalam makna tidak berarti berdiri sendiri, tapi berdiri bersama-sama membuat kemajuan bagi bangsa. "Itulah makna dari otonomi yang baik, yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan kemajuan dan memperkuat bangsa," kata Kalla.

    Dalam beragam kesempatan, Kalla mendorong inovasi dalam berbagai aspek kehidupan, baik di pemerintahan maupun berbisnis. Dia mencontohkan fenomena aplikasi transportasi online, seperti Gojek, Grab, dan lainnya. Meski pengendara transportasi konvensional menolak, Kalla mengatakan, keberadaan mereka tidak bisa dihindari. Yang perlu dilakukan adalah penyesuaian aturan. "Teknologi tidak bisa kita hindari," kata Kalla.

    AMIRULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    KPK Berencana Menghapus Hasil Penyadapan 36 Perkara

    Terdapat mekanisme yang tak tegas mengenai penghapusan hasil penyadapan 36 penyelidikan yang dihentikan KPK.