Lapangan Desa Disewa Investor Jalan Tol, Penduduk Protes

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga melintas menggunakan sepeda di  jalan Tol Darurat Pejagan-Brebes Timur. Selain membahayakan perjalanan pemudik, debu yang tebal dapat mengakibatkan gangguan pernafasan. Jawa Tengah, 15 Juli 2015.  TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Seorang warga melintas menggunakan sepeda di jalan Tol Darurat Pejagan-Brebes Timur. Selain membahayakan perjalanan pemudik, debu yang tebal dapat mengakibatkan gangguan pernafasan. Jawa Tengah, 15 Juli 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Boyolali - Seratusan warga Desa Canden, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, berunjuk rasa menolak lapangan desanya disewakan untuk batching plant (produksi beton ready mix) dalam proyek pembangunan jalan tol Solo – Kertosono, Senin 25 April 2016. Di sisi barat lapangan berumput hijau itu sudah ditimbuni tanah uruk untuk pembangunan batching plant.

     “Bukan berarti kami menghalangi proyek pembangunan jalan tol. Tapi lapangan ini fasilitas publik, tempat warga berkumpul dan berolahraga,” kata Ikhsan, 46 tahun, penduduk Desa Canden dalam orasinya di lapangan itu.

    Menurut penduduk lain, Rofiq, tahun lalu penduduk sudah bergotong-royong membenahi lapangan desa itu dengan dana swadaya. “Tidak ada sosialisasi sebelumnya ihwal pembangunan batching plant. Padahal kami akan menggelar turnamen sepak bola pada Agustus mendatang,” kata lelaki 35 tahun itu dalam orasinya. Setelah memasang sejumlah spanduk berisi tuntutan pada tiang gawang, warga melanjutkan aksi dengan menduduki pendopo Balai Desa Canden.

    Masalahnya rekanan PT Istaka Karya, BUMN pelaksana proyek jalan tol, Handono, telah membayar Rp 120 juta untuk menyewa lahan seluas 4.000 meter persegi dari total luas lapangan 12 ribu meter persegi itu selama tiga tahun. “Permasalahan yang terjadi sekarang di luar domain kami selaku penyewa. Kami sudah memenuhi kewajiban. Kalaupun akhirnya harus putus kontrak tentu ada konsekuensinya (dari pihak pemerintah desa),” kata Handono dalam proses mediasi antara perwakilan warga dan pemerintah desa.

    Handono menambahkan, pekerjaan batching plant tidak berlangsung tiap hari. Sebab, produk beton ready mix-nya hanya untuk kebutuhan proyek jalan tol alias tidak dijual untuk umum. “Sewanya tiga tahun tapi pekerjaannya paling tidak sampai satu tahun,” kata Handono.

    Menyikapi tuntutan warga, Camat Sambi, Setyo Budi Irianto, menyatakan pembangunan batching plant di lapangan itu dihentikan. “Sebagai konsekuensinya, Pemerintah Desa Canden musti segera mencarikan lokasi pengganti,” kata Setyo yang memfasilitasi mediasi warga dan pemerintah desa.

    Kepala Desa Canden, Joko Mulyono, mengatakan uang dari penyewaan  sebagian lahan lapangan desa itu untuk membangun gedung taman kanak-kanak. “Kami meminta maaf karena menyetujui penyewaan lahan lapangan desa itu tanpa sempat mensosialisasikan kepada warga,” kata Joko.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.