Fahri Hamzah: Saya Tidak Akan Bergabung dengan Demokrat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fahri Hamzah  dalam sesi konferensi pers kronologi pemecatan dirinya, di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, 8 April 2016. Tempo/Ghoida Rahmah

    Fahri Hamzah dalam sesi konferensi pers kronologi pemecatan dirinya, di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, 8 April 2016. Tempo/Ghoida Rahmah

    TEMPO.COJakarta - Politikus yang baru saja diberhentikan dari Partai Keadilan Sejahtera, Fahri Hamzah, menegaskan tidak akan bergabung dengan Partai Demokrat, meski beberapa waktu lalu ia berbicara dengan anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat, Syarief Hasan, di media center Dewan Perwakilan Rakyat. "Tidak mungkin saya bergabung. Waktu itu lagi jalan kebetulan ketemu," kata Fahri di Hotel Oasis, Senen, Jakarta, Minggu, 24 April 2016.

    Fahri menambahkan, dia juga sudah lama tidak bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, walaupun bertetangga. Ia menuturkan ingin bertemu dengan SBY untuk membicarakan masalah nasional.

    Menurut Fahri, selama kepemimpinan SBY dua periode, banyak kemajuan yang dialami Indonesia. Fahri menambahkan, sebelum pelantikan Presiden Joko Widodo, dia sudah sempat menyampaikan terima kasih kepada SBY. "Sebagai pribadi, minta maaf, saya tidak akan kritik lagi karena (SBY) sudah tidak bertugas," tuturnya.

    Fahri menambahkan, selama SBY memimpin, dia keras mengkritik. Saat ini giliran Presiden Joko Widodo yang akan terus ia kritik. "Tidak boleh dipuji saat berkuasa, harus terus ditantang biar lebih baik. Itu tugas legislator," ucapnya.

    Fahri telah dipecat dari keanggotaan PKS berdasarkan surat keputusan bernomor 463/SKEP/DPP-PKS/1437 pada 1 April 2016. Ia dianggap melanggar ketertiban partai. Dalam keterangan di laman resmi www.pks.or.id dijelaskan bahwa setidaknya ada beberapa kesalahan Fahri.

    Pertama, Fahri menyebut anggota DPR “rada-rada bloon”. Sikapnya ini berujung dilaporkannya ia ke Mahkamah Kehormatan Dewan. Kedua, mengatasnamakan DPR setuju membubarkan KPK. Ketiga, tanpa arahan partai, ia menyatakan pasang badan atas tujuh proyek DPR.

    Fahri menyindir dengan menyebut pihak yang menolak revisi UU KPK sok pahlawan, padahal partainya menolak. Kelima, ia beranggapan nilai kenaikan tunjangan DPR kurang. Terakhir, ia membela Setya Novanto dalam kasus "Papa Minta Saham".

    Tidak lama setelah Fahri dipecat, ruangan wartawan di gedung DPR tiba-tiba diramaikan kedatangan Fahri dan Syarief Hasan. Pertemuan tersebut terjadi pada Selasa, 19 April 2016.

    AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peta Bencana Sejumlah Sudut Banjir Jakarta di Akhir Februari 2020

    Jakarta dilanda hujan sejak dini hari Rabu, 25 Februari 2020. PetaBencana.id melansir sejumlah sudut yang digenangi banjir Jakarta hingga pukul 15.00.