Film Sumatran Last Tiger Raih Perak di New York 2016  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seekor Harimau Sumatera Panti dilepasliarkan di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) Lampung, Jumat (22/1). Pelepasliaran sepasang Harimau tersebut sebagai bentuk konservasi terhadap satwa yang terancam punah. ANTARA/Puspa Perwitasari

    Seekor Harimau Sumatera Panti dilepasliarkan di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) Lampung, Jumat (22/1). Pelepasliaran sepasang Harimau tersebut sebagai bentuk konservasi terhadap satwa yang terancam punah. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.COJakarta - Film dokumenter Sumatran Last Tiger yang menceritakan upaya konservasi harimau Sumatera di kawasan konservasi Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) Pesisir Barat, Lampung, meraih medali perak dalam Festival Film New York 2016.

    Film bertema alam dan satwa liar di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan ini mengalahkan ratusan film dokumenter lain. Demikian menurut keterangan tertulis Artha Graha Peduli yang diterima di Jakarta, Sabtu. Sumatran Last Tiger diproduksi Channel News Asia, Mediacorp pte Ltd, Singapura.

    Menurut pengumuman dalam laman Festival Film New York, Jumat, 22 April 2016, medali emas diraih film Vanishing King: Lion of Namib yang menceritakan soal terancam punahnya satwa liar Singa di Namibia, Afrika. Film ini diproduksi oleh Interspot film GmBh, Austria.

    Dalam film Sumatran Last Tiger dikisahkan bagaimana harimau Sumatera, yang pernah berkonflik dengan manusia, direhabilitasi kemudian dilepasliarkan kembali ke alam bebas. Pusat rehabilitasi harimau itu terdapat di TWNC yang dikelola Yayasan Artha Graha Peduli.

    Pada film itu diceritakan dua ekor harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) berhasil dilepasliarkan setelah menjalani masa rehabilitasi. Pelepasliaran dua harimau Sumatera yang bernama Panti dan Petir disaksikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya serta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Pelepasliaran dilakukan di area konservasi alam seluas kurang-lebih 50 ribu hektare di TNBBS.

    Panti dan Petir termasuk dari sembilan harimau Sumatera yang direhabilitasi di area Tiger Rescue Center TWNC yang dilepasliarkan satu per satu. Di seluruh Sumatera, kini tinggal sekitar 500 ekor. Namun harimau-harimau itu dalam keadaan terdesak karena rusaknya kawasan hutan di seluruh Sumatera. Banyak harimau Sumatera di Aceh, misalnya, yang masuk ke kampung untuk mencari makan, dan hal itu mengakibatkan konflik dengan manusia.

    Pada 2014, lembaga konservasi dunia untuk perlindungan spesies kucing besar (Panthera) memberi penghargaan kepada Artha Graha Peduli dan pejabat serta eks pejabat pemerintah Indonesia terkait dengan perlindungan harimau saat rapat tahunan "Tigers Forever" di Jakarta pada 16 Juli 2014. Panthera memberi penghargaan atas kesuksesan besar dalam upaya penyelamatan harimau liar di berbagai negara, terutama di TWNC, Indonesia.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.