Pendukung Permaisuri Sultan Ternate Bentrok dengan Polisi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bentrokan. ANTARA/Seno S.

    Ilustrasi bentrokan. ANTARA/Seno S.

    TEMPO.CO, Ternate- Ratusan masyarakat adat Kesultanan Ternate pendukung permaisuri mendiang Sultan Mudafar Sjah, Boki Nita Budi Susanti, terlibat bentrok dengan aparat Kepolisian Resor Ternate, Kamis, 21 April 2016. Bentrokan terjadi lantaran polisi berusaha membubarkan aksi palang jalan menuju Bandara Sultan Babullah yang dilakukan pendukung Boki Nita.

    Informasi yang dihimpun, aksi palang jalan menuju Bandara Babullah yang dilakukan pendukung Boki Nita merupakan aksi protes terhadap sikap Pengadilan Negeri Ternate yang menolak surat permohonan penanggunah penahanan Boki  atas perkara pemalsuan identitas dua putra kembarnya.

    Pengunjuk rasa menganggap penolakan penangguhan penahanan Boki Nita merupakan keputusan yang  mencederai nilai adat Kesultanan Ternate.

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Maluku Utara Ajun Komisaris Besar Hendrik Badar menuturkan polisi terpaksa membubarkan aksi lantaran dinilai menganggu jalur lalulintas dan keamanan. Polisi bertindak tegas karena imbauan untuk membuka jalan menuju bandara tidak diindahkan pengunjuk rasa.

    “Karena aksi itu dianggap menganggu ketertiban maka polisi terpaksa membubarkannya. Dan untuk saat ini kondisi sudah kembali normal,” kata Hendrik kepada Tempo.

    Menurut Hendrik, polisi menangkap delapan  pendukung Boki Nita. Mereka  masih dimintai keterangan. "Polisi masih menjaga jalur menuju bandara,” ujar Hendrik.

    Boki Nitha diduga terlibat penipuan dan pemalsuan identitas dua putra kembarnya yang  telah dikukuhkan menjadi putra mahkota  sebelum Sultan Ternate Mudafar Sjah wafat. Dan saat ini Boki Nita menjadi tahanan di lapas Jambula Ternate.

    BUDHY NURGIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.