Elang Jawa Terancam Pembukaan Lahan Kebun Pisang di Lumajang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) tertangkap kamera di ketinggian 1.092 meter dari permukaan laut di Dusun Cincing, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, pada 4 Agustus 2013. TEMPO/Abdi Purmono

    Burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) tertangkap kamera di ketinggian 1.092 meter dari permukaan laut di Dusun Cincing, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, pada 4 Agustus 2013. TEMPO/Abdi Purmono

    TEMPO.CO, Jakarta - Populasi elang Jawa di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru terancam aktivitas pembukaan lahan pisang di zona penyangga hutan yang berbatasan dengan kawasan hutan taman nasional. Pembukaan lahan pisang ini banyak terjadi di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

    Ketua Protection of Forest and Fauna (Pro Fauna), Rosek Nursahid mengatakan di lokasi penyangga kawasan hutan TN BTS yang dulunya masih hutan, saat ini sudah menjadi perkebunan pisang.

    "Dan itu bisa berpengaruh terhadap penyebaran hewan atau satwa liar yang ada disana," kata Rosek pada Selasa, 19 April 2016. Selain pembukaan lahan untuk perkebunan pisang, Pro Fauna juga mengamati tingginya tingkat perburuan satwa liar terutama di hutan Ireng-ireng.

    "Yang sayangnya di tempat (Blok Ireng-ireng) itu tidak ada pos pemantauan untuk petugas, dulu sempat ada. Tapi sampai sekarang tidak pernah dihuni dan bahkan sekarang sudah rusak," katanya.

    Berapa angka pasti secara kuantitas luasan pembukaan perkebunan pisang, Rosek belum bisa menyebutnya. "Kalau ratusan hektare, ada," katanya. Dulunya, sebelum ditanami pisang, kawasan hutan itu masih alami. "Kawasan hutan lindung yang belum masuk kawasan TN BTS," katanya.

    Menurut Roses, seharusnya menjadi zona penyangga. Karena kalau bicara konsep distribusi dan pergerakan binatang liar, Rosek mengatakan, tidak mengenal wilayah dan batas.

    Tidak hanya di wilayah TN BTS saja, tetapi bisa saja satwa liar keluar dari TN BTS. "Keluar kawasan TN BTS, kemudian zona penyangganya tidak ada, habitatnya menjadi kebun pisang, maka akan merubah perilaku serta mengancam kelestarian satwa itu," kata dia.

    Lenyapnya kawasan yang seharusnya menjadi zona penyangga itu mempermudah para pemburu untuk berburu. "Kalau naik dari arah Senduro kemudian sampai atau sebelum masuk pintu kawasan TN BTS, disitu sudah tidak ada hutan," katanya.

    Hal ini mengakibatkan satwa terganggu. Dia mencontohkan elang Jawa. "Elang Jawa ini biasanya migrasinya cukup jauh, mencari makan," katanya. Ketika awalnya di tempat itu ada pohon-pohon yang biasa digunakan untuk bersarang atau rest area, dan kemudian tidak memungkinkan, karena sudah tidak ada lagi pohon tegakan hutan.

    "Yang ada hanya pisang dan tanaman pertanian," katanya. Hal ini sama dengan menghambat laju perkembangbiakan elang Jawa. "Dari sisi perkembangbiakan, karena dia membutuhkan pohon yang tinggi, untuk membuat sarang dan saat ini semakin sempit, sedangkan laju perburuan satwa sangat tinggi dan tidak terkontrol," ujarnya.

    Kondisi seperti ini, kata Rosek, jelas mengganggui populasi. "Pernah kami melakukan pemantauan di TN BTS itu pernah ada 10-15 pasang, kalau di wilayah Senduro, pemantauan terakhir 2015 hanya menemukan dua pasang mulai Senduro sampai Hutan Ireng-ireng," kata dia.

    Dia juga mengatakan, perburuan di kawasan hutan Ireng-ireng ini juga sangat tinggi. "Hampir setiap minggu ada kelompok pemburu yang masuk berburu burung, primata, rusa," katanya. Di Hutan Ireng-ireng ini pada 2007 menjadi lokasi pelepasan satwa liar berupa Lutung Jawa yang didukung Pro Fauna. "Seharusnya disana pintu masuk dari Lumajang, ada Pos Jaga dari Polisi Hutan," kata dia.

    DAVID PRIYASIDHARTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.