Maruli Minta La Nyalla Ambil Surat Penetapan Tersangkanya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • La Nyalla M. Mattalitti. sportiplus.com

    La Nyalla M. Mattalitti. sportiplus.com

    TEMPO.COSurabaya - Sudah hampir sepekan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menetapkan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur La Nyalla Mattalitti sebagai tersangka. Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Maruli Hutagalung mengakui surat penetapan tersangka belum dikirim kepada yang bersangkutan. (Baca: Begini Kronologi La Nyalla Menjual Saham Bank Jatim)

    “Suruh La Nyalla ambil suratnya sendiri, itu iktikad baik saya,” kata Maruli kepada Tempo, Jumat, 18 April 2016.

    Maruli menambahkan, saat ini La Nyalla sedang berada di luar negeri dan belum diketahui keberadaannya. Sehingga, kata dia, Kejaksaan kesulitan mengirim surat secara resmi. Maruli meminta La Nyalla datang langsung ke Kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Timur untuk mengambil surat itu. “Saya mau kasih langsung surat itu,” Maruli berujar.

    Sementara itu, penasihat hukum La Nyalla, Amir Burhanudin, mengatakan masih mempertimbangkan upaya hukum lanjutan atas penetapan La Nyalla sebagai tersangka untuk kedua kalinya. Menurut dia, jika niat Kejaksaan baik, tentunya surat perintah penyidikan dan surat penetapan tersangka itu diberikan. “Agar tersangka diberi kemudahan untuk membela diri,” ujar Amir kepada Tempo melalui WhatsApp.

    La Nyalla pertama kali ditetapkan tersangka pada 16 Maret 2016. Dia disebut menyalahgunakan dana hibah Rp 48 miliar untuk membeli saham perdana Rp 5,3 miliar di Bank Jatim. Setelah ditetapkan tersangka, La Nyalla tiga kali mangkir kemudian kabur ke luar negeri saat dipanggil Kejaksaan untuk diperiksa. Diwakili kuasa hukumnya, La Nyalla mengajukan praperadilan di Pengadilan Negeri Surabaya. (Baca: La Nyalla Mattalitti Disebut Rekayasa Kuitansi Pakai Meterai)

    Dalam praperadilan itu, La Nyalla dinyatakan menang oleh Hakim Tunggal Ferdinandus pada 12 April 2016. Hakim menganggap kasus ini sudah selesai pada dua pejabat Kadin Jawa Timur, Diar Kusuma Putra dan Nelson Sembiring. Mereka masing-masing divonis 1 tahun 5 bulan penjara dan 4 tahun penjara karena dinyatakan melakukan korupsi dana hibah Kadin Jawa Timur tahun 2011 sampai 2014. Putusan itu dibacakan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Surabaya pada akhir Desember 2015.
     
    Namun La Nyalla tak lama menikmati kemenangannya di praperadilan. Dalam hitungan kurang dari 12 jam, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur memutuskan mengeluarkan surat perintah penyidikan (sprindik) baru. Dengan begitu, La Nyalla kembali menjadi tersangka. (Baca: Menang Praperadilan, La Nyalla Masih di Singapura)

    Juru bicara Pengadilan Negeri Surabaya, Efran Basuning, menyebut Kajati Jawa Timur melakukan pembangkangan hukum karena menetapkan La Nyalla sebagai tersangka untuk kedua kalinya.

    “Tidak benar itu, baru berapa jam praperadilan diputus sudah menetapkan tersangka,” kata Efran ketika ditemui di ruangannya di Kantor Pengadilan Negeri Surabaya, Senin, 18 April 2016.

    SITI JIHAN SYAHFAUZIAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.