Red Notice La Nyalla, Kapolri: Belum Disetujui Interpol

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattalitti (kanan) didampiingi Wakil Ketua Umum Hinca Panjaitan (kiri) saat menemui Komisi X DPR RI di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Selatan, 20 April 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattalitti (kanan) didampiingi Wakil Ketua Umum Hinca Panjaitan (kiri) saat menemui Komisi X DPR RI di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Selatan, 20 April 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Bandung - Kepala Kepolisian RI Jendral Badrodin Haiti mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih menunggu tanggapan dari interpol terkait red notice untuk La Nyalla Mattalitti, tersangka kasus dana hibah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur.

    "Sudah kami ajukan ke Interpol," ujar Badrodin saat ditemui selepas acara pelatihan penindakan pidana korupsi yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi, di Kota Bandung, Senin, 18 April 2016.

    Menurut Badrodin, pengajuan permohonan red notice dilakukan setelah berkas permohonan yang diajukan kejaksaan lengkap. Namun, hingga saat ini pihaknya belum mendapat kabar apakah permohonan tersebut diterima oleh interpol atau tidak.

    "Pengajuan dari kejaksaan sudah, tapi kan prosesnya sedang diajukan ke interpol. Mungkin sampai sekarang belum turun," ujar Badrodin.

    Badrodin mengatakan, proses praperadilan yang dimenangkan oleh La Nyalla mungkin menjadi faktor red notice tersebut belum juga ditanggapi oleh interpol. "Mungkin juga terkait praperadilan yang dimenangkan La Nyalla mungkin jadi pertimbangan belum dikeluarkan," ujarnya.

    La Nyalla diketahui telah terbang ke luar negeri. Tepatnya ke Malaysia melalui Bandar Udara Soekarno Hatta Jakarta pada 17 Maret 2016, sehari sebelum surat permintaan Kejaksaan Agung dikirim ke kantor Imigrasi. Dari Malaysia, La Nyalla terdeteksi menyeberang ke Singapura pada 29 Maret 2016.

    Karena belum masuk dalam red notice, untuk menangkap La Nyalla masih sulit. Mabes Polri juga tidak bisa meminta Interpol memburu dan menangkap Ketua Umum PSSI di luar negeri. Selama red notice masih bolak-balik Kejaksaan Agung-Mabes Polri, keberadaan La Nyalla di mancanegara bisa jadi "masih aman" dari kejaran aparat, walaupun kabarnya Imigrasi telah mencabut paspornya.

    Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menetapkan La Nyalla sebagai tersangka kasus dugaan korupsi hibah Kadin Jawa Timur. Dia diduga menyelewengkan uang senilai Rp 5,3 miliar untuk membeli saham Bank Jatim. La Nyalla dinyatakan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) setelah beberapa kali mangkir dari panggilan untuk diperiksa.

    La Nyalla, melalui kuasa hukumnya, mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Surabaya. Hasilnya pada Selasa, 12 April 2016, hakim tunggal Pengadilan Negeri Surabaya Ferdinandus mengabulkan permohonan La Nyalla.

    "Menyatakan penetapan pemohon sebagai tersangka korupsi pembelian saham IPO Bank Jatim tidak sah dan cacat hukum. Menyatakan penyidikan yang dilakukan termohon tidak sah, membebankan biaya perkara kepada termohon," kata Ferdinadus saat membacakan amar putusannya.

    Hakim Ferdinadus menganggap, bukti-bukti yang diajukan Kejati Jatim telah usang dan telah dipertanggungjawabkan oleh dua tersangka lain dalam kasus Kadin jilid I, yakni Diar Kusuma Putra dan Nelson Sembiring.

    Besoknya, Rabu, 13 April 2016, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) baru La Nyalla Mattalitti sebagai tersangka. Dugaan yang dijeratkan tetap, yaitu korupsi dana hibah Kadin Jatim untuk pembelian IPO Bank Jatim. "Kami  keluarkan sprindik baru," kata Kepala Kejati Jatim, Maruli Hutagalung. La Nyalla pun kembali menjadi buron Kejaksaan Tinggi Jawa Timur.

    IQBAL T. LAZUARDI S.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peta Bencana Sejumlah Sudut Banjir Jakarta di Akhir Februari 2020

    Jakarta dilanda hujan sejak dini hari Rabu, 25 Februari 2020. PetaBencana.id melansir sejumlah sudut yang digenangi banjir Jakarta hingga pukul 15.00.