Selasa, 22 September 2020

Garin Akan Jadikan Yogyakarta Kota Paling Nyaman, Caranya?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sineas Indonesia Garin Nugroho. ANTARA/Teresia May

    Sineas Indonesia Garin Nugroho. ANTARA/Teresia May

    TEMPO.CO, Yogyakarta- Sineas Garin Nugroho berhasil terpilih menjadi bakal calon wali kota yang diusung Gerakan Jogja Independent untuk pemilihan kepala daerah tahun 2017 nanti. Sutradara film 'Daun di Atas Bantal' itu berhasil menang telak dari empat peserta konvensi lain dalam konvensi yang digelar di Jogja Expo Center, pada Minggu, 17 April 2016.

    Dalam paparannya yang mencuri perhatian para juri saat konvensi, Garin mengungkapkan niatnya jika terpilih akan membawa Yogyakarta sebagai kota ternyaman di Indonesia.

    Tahun 2010, Kota Yogyakarta meraih predikat sebagai kota ternyaman mengacu hasil survey Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP). "Posisi saat ini, predikat kota ternyaman untuk Yogya itu sudah turun di ranking empat, artinya ada masalah dan ini harus dikembalikan," ujar Garin.

    Sineas yang pernah menjadi bakal calon Wakil Gubernur Jawa Tengah mendampingi kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Rustriningsih tahun 2012 silam itu menilai sejak tiga tahun terakhir ini, Kota Yogya cenderung tumbuh dengan warna kepemimpinan yang lebih mengacu pada kepentingan politik dan bisnis. Kurang memberi porsi kepemimpinan yang melibatkan peran serta kecendekiawanan, kebudayaan, dan religiusitas atau persepektif teologi kebangsaan.

    "Tersingkirkannya nilai kecendekiawanan dan kebudayaan dalam kepemimpinan ini mengakibatkan Yogya tumbuh jadi kota yang sangat vulgar, konsumtif, dan menakutkan," ujar Garin.

    Garin menambahkan, pertumbuhan kota yang tidak memprioritaskan keseimbangan lima aspek kepemimpinan mengakibatkan kacaunya berbagai bidang. Paling mencolok bidang tata ruang yang menjadi sangat komersial dan cenderung mengabaikan kepentingan publik. "Orang sekarang mengunjungi Yogya tidak melihat objek-objek kebudayaan yang indah, tapi harus melihat hotel," ujar Garin.

    Garin menegaskan, Yogya yang tak memiliki sumber daya alam, seharusnya bisa tumbuh menjadi kota inspiratif dan kreatif dengan sumber daya manusianya. "Oleh sebab itu kepemimpinan tak bisa lagi berjalan secara autopilot, agar sumber daya manusia ini terberdayakan," ujarnya.

    Koordinator Tim Panel Konvensi Gerakan Jogja Independent Busyro Muqodas menuturkan proses menjaring dan mendapatkan bakal calon independen ini diharapkan menjadi satu tradisi baru yang dapat mendorong masyarakat untuk turut memperbaiki proses demokrasi transaksional yang biasanya dilakukan partai politik saat pilkada.

    "Rakyat tidak boleh lagi dipecundangi dengan budaya politik sogok, mahar, dan kebiasaan lain yang tak patut dan mencinderai UUD 1945 pasal 1 ayat 2," ujar mantan komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi itu.

    PRIBADI WICAKSONO.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.