Korban 1965 Kumpul di Cianjur, Apa Alasannya?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tumiso bersama korban pelanggaran HAM tahun 1965/66 lainnya melakukan aksi di pelataran gedung Komnas HAM, Jakarta Pusat, (4/6). Mereka mendesak Komnas HAM untuk menyatakan peristiwa 1965/66 sebagai pelanggaran HAM berat, serta mengumumkan hasil penyelidikannya. ANTARA/Fanny Octavianus

    Tumiso bersama korban pelanggaran HAM tahun 1965/66 lainnya melakukan aksi di pelataran gedung Komnas HAM, Jakarta Pusat, (4/6). Mereka mendesak Komnas HAM untuk menyatakan peristiwa 1965/66 sebagai pelanggaran HAM berat, serta mengumumkan hasil penyelidikannya. ANTARA/Fanny Octavianus

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 65 Bedjo Untung menyatakan tujuan pihaknya menggelar pertemuan dengan keluarga korban kekerasan 1965 di Cianjur. Pertemuan itu digelar untuk temu kangen keluarga. "Pertemuan di Cianjur untuk wisata keluarga korban 65, untuk temu kangen dari kami yang lama tidak ketemu," kata Bedjo di kantor LBH Jakarta, Jumat, 15 April 2016.

    Selain itu, kata Bedjo, perkumpulan hendak dimanfaatkan untuk merancang sikap bersama. Sikap bersama ini rencananya dibawa ke simposium penyelesaian masalah 1965, yang dirancang bersama Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan serta Dewan Pertimbangan Presiden. "Kami merancang sikap bersama sebelum menghadapi simposium yang akan diselenggarakan Menkopolhukam serta Wantimpres," ujarnya.

    Menurut dia, simposium itu penting untuk menyusun rekomendasi penyelesaian tragedi 1965 secara adil dan bermartabat. Simposium, kata dia, akan menghasilkan rekomendasi yang penting bagi korban. "Tapi jangan sampai jadi legitimasi untuk menyelesaikan nonyudisial," kata Bedjo.

    Bedjo menegaskan, sejak awal YPKP tidak menolak rekonsiliasi nonyudisial. Namun, kata dia, rekonsiliasi nonyudisial tidak berarti mengabaikan penegakan hukum. "Jangan sampai ada rekonsiliasi tanpa pengungkapan kebenaran," ucapnya.

    Bedjo mengklaim, YPKP mendatangkan korban dari seluruh Indonesia. Total ada 81 peserta, yang merupakan keluarga korban, hadir dari Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Banten, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat. "Meskipun tidak ada (keluarga) dari Papua, ini bisa mewakili seluruh korban," katanya.

    Kamis, 14 April 2016, organisasi massa membubarkan perkumpulan lokakarya YPKP di Cianjur. Lokakarya tersebut semula direncanakan diselenggarakan pada 14-16 April 2016. Bedjo menegaskan, lokakarya akan tetap diselenggarakan dan berpindah tempat, seperti di LBH Jakarta atau Komnas HAM.

    Sementara itu, simposium nasional "Membedah Tragedi 1965" rencananya digelar pada 18-19 April 2016, dibuka oleh Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan. Simposium itu merupakan upaya untuk menuntaskan tragedi 1965. YPKP mengklaim pertemuan di Cianjur merekomendasikan penyelesaian tragedi 1965.

    ARKHELAUS W.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peta Bencana Sejumlah Sudut Banjir Jakarta di Akhir Februari 2020

    Jakarta dilanda hujan sejak dini hari Rabu, 25 Februari 2020. PetaBencana.id melansir sejumlah sudut yang digenangi banjir Jakarta hingga pukul 15.00.