Diusir dari Cianjur, Korban Tragedi 1965 Terdampar di Jakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah korban/keluarga tragedi kemanusiaan 1965/1966 melakukan aksi damai di gedung Komnas HAM, Jakarta, Selasa (8/5). Mereka mendesak sidang paripurna untuk mengumumkan segera hasil penyelidikan peristiwa 1965/1966 terbuka. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Sejumlah korban/keluarga tragedi kemanusiaan 1965/1966 melakukan aksi damai di gedung Komnas HAM, Jakarta, Selasa (8/5). Mereka mendesak sidang paripurna untuk mengumumkan segera hasil penyelidikan peristiwa 1965/1966 terbuka. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965-1966 (YPKP) tak bisa menikmati acara lokakarya yang semula diadakan di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, Kamis hingga Sabtu besok, 14-16 April 2016.

    Organisasi beranggotakan korban tahanan dan narapidana politik tragedi 1965 se-Indonesia itu baru tiba di Bogor, Kamis, 14 April 2016, pukul 15.00 WIB. Namun, beberapa jam kemudian, mereka sudah harus meninggalkan tempat dan memutuskan beristirahat di kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta.

    "“Kami baru tiba pukul setengah sebelas malam," kata Aris Phanji, 54, anggota YPKP asal Kebumen kepada Tempo di kantor Lembaga Bantuan Hukum, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Jumat dini hari, 15 April 2016.

    Ketika Tempo berkunjung, terlihat puluhan pria sedang tertidur pulas. Terdengar dengkuran menggema di ruangan lantai empat tersebut. Namun masih ada sekitar delapan pria berusia 50-76 tahun yang mengobrol, termasuk Aris. Sebetulnya, ada juga ibu-ibu anggota YPKP. Mereka berjumlah sepuluh orang. Tapi, kata Aris, tempat peristirahatannya dipisah.

    Aris menceritakan ihwal kedatangannya ke LBH Jakarta. Menurut Aris, ada seorang perwakilan massa mendatangi vila yang bakal mereka tempati di Desa Cimacan, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Orang itu, kata Aris, memberi tahu akan ada massa yang datang bila acara YPKP di sana tetap dilanjutkan.

    “Dia mengaku sebagai Ketua Forum Pesantren Kabupaten Cianjur. Dia juga sempat ngomong bahwa itu ada instruksi dari Habib Rizieq (Ketua Umum Forum Pembela Islam),” katanya. “Tapi dia bilangnya bukan dari FPI.”

    Rencananya, dalam lokakarya itu, YPKP membicarakan agenda Simposium Nasional ’65 yang bakal digelar pada Senin, 18 April 2016. Tujuannya untuk mengadakan rekonsiliasi dengan pemerintah dan mencari keadilan bagi korban tragedi 1965.

    Awalnya, pihak YPKP, menurut Aris, sudah menawari massa untuk ikut serta dalam agenda mereka. “Tapi mereka tidak mau,” ucapnya. Supangat, Ketua YPKP Cabang Boyolali, menyambung pernyataan Aris. “Elemen mana saja yang ingin datang dan mau tahu, ya silakan. Kami terbuka, malah lebih jelas kalau didengarkan apa yang dituntut,” tuturnya.

    Menurut Aris, kepolisian sudah memberikan jaminan keamanan bagi para anggota YPKP, saat organisasi massa semakin banyak berdatangan. Sebab, menurut dia dan Supangat, ada ratusan Brigade Mobil yang diturunkan untuk mengamankan situasi sekitar.

    “Bahkan Kapolres menjamin keamanan untuk kelangsungan acara kami. Setelah berkoordinasi, akhirnya kami sepakat ke sini (LBH). Jam 8 evakuasinya,” ujar Aris.

    FRISKI RIANA

    BERITA MENARIK
    Yuni Shara Buka Rahasia Soal Nikah dengan Duda Wanda Hamidah
    Perawat Suntik Mati 24 Pasien, Berharap Hidup Lagi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peta Bencana Sejumlah Sudut Banjir Jakarta di Akhir Februari 2020

    Jakarta dilanda hujan sejak dini hari Rabu, 25 Februari 2020. PetaBencana.id melansir sejumlah sudut yang digenangi banjir Jakarta hingga pukul 15.00.