Takut Abu Sayyaf, Kapten Kapal Oceanus Pilih Tak Berlayar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah Alat berat menurunkan muatan batubara dari kapal tongkang di pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar. TEMPO/Iqbal Lubis

    Sebuah Alat berat menurunkan muatan batubara dari kapal tongkang di pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Banjarmasin - Satu unit kapal tugboat Oceanus 201 yang menarik tongkang Oceanus 31 pembawa batu bara sebanyak 7.452 metrik ton (MT) batal berangkat ke Filipina. Kapten kapal khawatir terjadi lagi penculikan seperti yang dialami kru tugboat Brahma 12 oleh kelompok Abu Sayyaf. Kapten Oceanus 201, Alit Rukmana, mengaku sengaja menunda keberangkatan demi keselamatan kru kapal.

    Alit sejatinya telah meminta operator kapal menunda layanan pengiriman kargo ke Filipina. Namun Alit terkejut operator kapal PT Oceanus Perkasa ngotot menerima orderan kiriman batu bara ke Rio Tuba, Pulau Palawan, Filipina. “Masih rawan, saya putuskan batal berangkat dulu,” kata Alit kepada Tempo di kabin Oceanus 201, Kamis, 14 April 2016.

    Dari dokumen yang diterima Tempo, Oceanus 201 berangkat dari pelabuhan khusus batu bara Kelanis, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 30 Maret 2016. Kapal menyusuri perairan Sungai Barito membawa batu bara milik PT Adaro Indonesia yang dikirim kepada pembeli di Filipina atas nama Mitsui & Co Ltd. Tiba di Pelabuhan Trisakti pada 1 April 2016, kapal sempat lego jangkar menunggu izin surat persetujuan berlayar (SPB) dari KSOP Banjarmasin.

    KSOP pun mengeluarkan SPB tertanggal 6 April dan sempat diperbarui pada 7 April 2016. Alit mengaku sempat meneken surat pernyataan kesanggupan berlayar ke Filipina. Tapi dia berpikir ulang setelah penyewa kapal enggan menambah ongkos bahan bakar sebanyak 20 ribu liter solar. Tambahan bahan bakar ini karena Alit mesti melalui perairan yang lebih aman dengan memutar melintasi Kalimantan Barat.

    “Kalau mau lewat Kepulauan Sulu, syahbandar minta alat navigasi dilengkapi,” ucapnya. Alit sebenarnya cukup berpengalaman melintasi perairan rawan perompak. Ia biasanya menyisir perairan pinggiran Malaysia hingga teritorial Filipina yang dianggap aman. Meski lebih jauh, menurut Alit, rute ini relatif aman ketimbang potong kompas lewat celah-celah Kepulauan Sulu.

    Akibat gagal kirim kargo, Alit belum tahu apakah batu bara sebanyak 7.452 MT akan dipindah ke kapal besar untuk dijual ke tempat lain. Ia menyerahkan kepada agen pelayaran soal akan dilempar ke mana muatan batu bara milik Adaro itu. “Kalau terlalu lama di kapal, (batu bara) bisa terbakar.”

    Kepala Seksi Penjagaan, Patroli, dan Penyidikan Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan Banjarmasin Khairil Ilmi mengatakan baru satu kapal yang menunda keberangkatan dari Banjarmasin ke Filipina. Ia meminta para kru kapal memperhatikan keselamatan jika ingin berlayar ke Filipina. Apabila ragu melintasi Laut Sulawesi, Khairil menyarankan berlayar lewat barat Kalimantan.

    “Baru Oceanus 201 yang membatalkan berlayar. Kalau mau aman, ya memutar lewat Kalimantan Barat,” tuturnya.

    DIANANTA P. SUMEDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cesium 137 dan Bahaya Radiasi Pada Tubuh Manusia

    Cesium 137 adalah bahan radioaktif yang digunakan berbagai industri dan pengobatan. Bila salah dikelola, bahan itu akan menimbulkan sejumlah penyakit.