Dijanjikan Bertemu dengan Jokowi, Ibu-ibu Kendeng Buka Cor Kaki  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • petani yang berasal dari kawasan pegunungan kendeng, Grobogan, Pati, Rembang bersiap mengecor kakinya di depan Istana Merdeka, Jakarta, 11 April 2016. Tempo/ Mawardah

    petani yang berasal dari kawasan pegunungan kendeng, Grobogan, Pati, Rembang bersiap mengecor kakinya di depan Istana Merdeka, Jakarta, 11 April 2016. Tempo/ Mawardah

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengacara Publik dari Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Yunita, mengatakan akhirnya sembilan ibu pendemo dari Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, mau melepas cor semen di kakinya. Keputusan ini diambil lantaran Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki bersama Menteri Sekretariat Negara Pratikno berjanji mempertemukan mereka dengan Presiden Joko Widodo.

    Teten dan Pratikno menemui ibu-ibu itu di halaman Monas, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, sekitar pukul 18.00 WIB. "Sembilan ibu tersebut dijanjikan bisa ditemukan dengan Presiden Jokowi. Karena (jadwal Presiden) padat, mereka bersedia menunggu," kata Yunita kepada Tempo, Kamis, 14 April 2016.

    Ketika mendengar ada staf presiden datang, ibu-ibu itu senang. Sebab, harapan mereka terkabul, meski belum bisa dipertemukan dengan Jokowi. "Minimal dari staf presiden datang untuk dan ngomong bahwa nanti intinya mereka dijanjikan ditemukan dengan Jokowi. Ibu-ibu menganggap tujuannya sudah tersampaikan," tutur Yunita.

    Baca juga: Kepala Staf Presiden Sempat Larang Aksi Cor Kaki Ibu Kendeng

    Sekitar pukul 19.00, sembilan ibu itu akhirnya membuka cor di kakinya dan siap menagih janji Teten dan Pratikno yang akan mempertemukan mereka dengan Presiden Jokowi. Pada pukul 22.00, karena untuk bermalam di kantor LBH tidak memadai, ibu-ibu tersebut beranjak ke kawasan Cempaka Putih, di sebuah rumah warga yang bersedia ditumpangi.

    Rencananya, sembilan ibu tersebut akan pulang ke Kendeng. LBH akan tetap memfasilitasi mereka untuk menyampaikan tuntutannya. Selain itu, LBH akan tetap membantu proses hukum yang kini masih berjalan.

    "Saat ini kondisinya masih stabil. Soal kakinya sudah ditangani petugas medis dan relawan. Sejauh ini tidak ada keluhan berarti setelah kakinya dicor," ucap Yunita.

    Sembilan perempuan itu berasal dari Pati, Grobogan, dan Rembang. Mereka adalah Sukinah, Supini, Murtini, Surani, Kiyem, Ngadinah, Karsupi, Deni, dan Rimabarwati. Mereka menolak pembangunan pabrik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di wilayahnya.

    LARISSA HUDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.