Menhan: Negosiasi 10 WNI Diserahkan kepada Pemilik Kapal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas di halaman gedung PT Patria Maritime Lines, di kawasan Jababeka, Cikarang, Bekasi, 30 Maret 2016.  Perusahaan ini merupakan pemilik Kapal Tugboat Brahma 12 pengangkut batu bara yang dibajak dan awaknya disandera kelompok Militan Abu Sayyaf. ANTARA/Risky Andrianto

    Aktivitas di halaman gedung PT Patria Maritime Lines, di kawasan Jababeka, Cikarang, Bekasi, 30 Maret 2016. Perusahaan ini merupakan pemilik Kapal Tugboat Brahma 12 pengangkut batu bara yang dibajak dan awaknya disandera kelompok Militan Abu Sayyaf. ANTARA/Risky Andrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah masih mengutamakan negosiasi sebagai upaya penyelamatan sepuluh warga negara yang disandera Abu Sayyaf. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan negosiasi upaya penyelamatan sepuluh WNI itu diserahkan kepada perusahaan tempat mereka bekerja, yaitu PT Patria Maritime Lines.

    "Negosiasi itu penting, tapi bukan oleh pemerintah. Perusahaan yang nego, lebih bagus begitu kan?" ujar Ryamizard di gedung Bhinneka Tunggal Ika, Kemenhan, Jakarta Pusat, Rabu, 13 April 2016.

    Baca: Abu Sayyaf Pindahkan 10 WNI ke Jolo, Dibagi per Kelompok

    Ryamizard menekankan bahwa secara prinsip negara tak bisa mengeluarkan uang untuk pemenuhan tebusan. "Kan ada tiga jalur, yaitu diplomasi, negosiasi, dan operasi militer," katanya.

    Jalur operasi militer, ujar Ryamizard, berpotensi menimbulkan korban. Karena itulah pemerintah memilih jalur negosiasi, dengan mengutamakan keselamatan sepuluh WNI yang disandera.

    Baca: Menlu RI: Negara Tak Terlibat soal Uang Tebusan

    Ryamizard belum memberi perkembangan pasti hasil upaya penyelamatan yang sudah berjalan sejak akhir Maret 2016. "Yang pasti Rabu pagi tadi, saya dapat kabar bagus. Kondisi mereka masih sehat," ujarnya tanpa menyebut sumber informasi tersebut.

    Meski menyatakan kondisi para WNI terpantau baik, Ryamizard enggan menyebutkan lokasi keberadaan mereka saat ini. Dia mengatakan para sandera tak terkait dengan kontak senjata antara militer Filipina dan kelompok Abu Sayyaf di Basilan, Filipina, 9 April lalu.

    "Operasi militer Filipina itu jauh lokasinya, bukan itu," katanya.

    Baca: Operasi Militer Filipina, 13 Milisi Abu Sayyaf Tewas

    Menteri Luar Negeri Retno Marsudi juga menyatakan sepuluh WNI tak berada di lokasi kontak senjata yang berlangsung selama hampir sepuluh jam tersebut. "Informasi terakhir baru saya dapat, bahwa sepuluh WNI terpantau, dalam kondisi baik," kata Retno saat jumpa pers di gedung Kemenlu, Pejambon, Jakarta Pusat, Senin lalu.

    Retno menyampaikan ucapan belasungkawa atas jatuhnya korban prajurit Filipina dalam kontak senjata yang terjadi Sabtu lalu itu. "Dukacita saya sampaikan melalui Menlu Filipina. Senin pagi saya berkontak dengan beliau."

    Baca: TNI Belajar dari Tewasnya Tentara Filipina oleh Abu Sayyaf

    Pasukan militer Filipina menyerbu kelompok utama Abu Sayyaf yang berada di wilayah Basilan, Filipina. Diketahui 18 prajurit Filipina tewas, sementara 53 terluka. Kabar pertempuran itu membuat pasukan TNI yang sedang bersiap di Tarakan, Kalimantan Timur, menjadi lebih siaga.

    Akhir Maret 2016, dua kapal Indonesia dirompak kelompok Abu Sayyaf di perairan Tawi Tawi, Filipina Selatan. Kedua kapal tersebut dilepas dan ditemukan masing-masing di lokasi berbeda, sementara itu sepuluh WNI yang adalah anak buah kapal tersebut masih disandera hingga detik ini.

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.