Kenapa Orang-orang Ini Kesal dan Merasa Ditipu Ridwan Kamil  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, dalam konferensi pers terkait beredarnya informasi dirinya yang menampar sopir di Bandung, 21 Maret 2016. Kang Emil mengatakan hanya memegang dagu seorang sopir. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, dalam konferensi pers terkait beredarnya informasi dirinya yang menampar sopir di Bandung, 21 Maret 2016. Kang Emil mengatakan hanya memegang dagu seorang sopir. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.COBandung - Sekitar 65 pedagang yang mengatasnamakan Forum Pedagang Kaki Lima (PKL) Jalan Purnawarman menggelar aksi protes di kawasan Purnawarman, Bandung, Selasa, 12 April 2016. Aksi para pedagang itu hanya berlangsung 30 menit, tapi cukup membuat arus lalu lintas di kawasan itu macet.

    Para pedagang tersebut menggelar demo sebagai bentuk protes atas kekecewaan mereka kepada Pemerintah Kota Bandung. Mereka mengaku Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menipu dan tak melunasi janji untuk membuat mereka lebih sejahtera berjualan di lokasi yang baru, parkiran outdoor Bandung Electronic Center, 14 Maret 2016. Selain itu, tempat relokasi akan dibuat semenarik mungkin agar menarik banyak pembeli serta akan disediakan listrik, toilet, dan air. Namun janji tersebut tidak kunjung terwujud.

    Asep Sukandar, perwakilan PKL Purnawarman, mengatakan, dari 65 pedagang yang direlokasi, hanya tersisa 17 pedagang yang masih bertahan jualan di tempat baru. Menurut dia, lokasi anyar tersebut sepi pembeli. Tak ayal mereka merugi. "Dari segi pendapatan, hancur banget. Banyak yang gulung tikar. Bayangin, modal Rp 350 ribu, dapet uang cuma Rp 45 ribu," kata Asep saat ditemui di sela aksi.

    Setidaknya terdapat enam tuntutan yang disuarakan para pedagang. Pertama, mereka menuntut pemenuhan kebutuhan dasar, seperti listrik, air, dan toilet, di area relokasi. Kemudian, mereka meminta disediakan ruang promosi secara berkala. "Kami meminta jaminan ketersediaan konsumen," ujar Asep.

    Mereka juga meminta 60 PKL Purnawarman yang direlokasi diwadahi dalam satu kelompok. Selain itu, mereka harus dilibatkan dalam mendesain tempat berdagang baru.

    Asep bersama pedagang lain mengancam, bila tuntutan mereka tak dapat direalisasikan dalam satu minggu ke depan, dia dan rekannya tidak segan kembali berdagang di bahu jalan. "Seandainya pihak Pemkot tidak mendengar, ya, kami kembali ke jalan saja. Kami tahu diri dan tahu mana hak pejalan kaki," tuturnya.

    Ditemui terpisah, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan pihaknya akan segera melakukan evaluasi lapak baru PKL Purnawarman yang terletak di parkiran terbuka Bandung Electronic Centre. "Pokoknya Pemkot Bandung selalu akan mengevaluasi karena harus seimbang antara ekonomi dan hukum," ucapnya.

    Ridwan Kamil mengatakan relokasi dilakukan untuk kepentingan umum warga Kota Bandung. Namun dia juga tidak mau mematikan ekonomi para pedagang kecil. "Sekarang saya balikin lagi, kalau terjadi pelanggaran hukum, warga komplain, kan enggak akan selesai debat itu. Jadi, intinya, setiap ada dinamika, kita akan bicara," katanya.

    Ridwan Kamil memastikan akan tetap menegakkan aturan. Ia mengingatkan bahwa para pedagang yang kembali berjualan di jalan akan ditertibkan kembali. "Enggak bisa (kembali ke jalan), enggak boleh. Yang ngatur kota ini saya. Saya diberi mandat. Warga milih saya untuk mengatur, masak warga yang ngatur. Namun saya fair. Saya kasih solusi. Saya kan enggak ngusir tanpa ngasih solusi. Kalau solusinya masih berdinamika, saya kira itu hal yang akan kita cari penyempurnaannya," ujarnya.

    PUTRA PRIMA PERDANA | MUHAMMAD ROBY ISKANDAR

    (Lihat video Masuk Radar KPK Sejak Februari, Siapa Sunny?  Verifikasi 530 Ribu KTP, Teman Ahok Optimis)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?