Polisi Ungkap Daur Ulang Cokelat Wafer Kedaluarsa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi. sxc

    Ilustrasi. sxc

    TEMPO.CO, Sidoarjo - Polisi mengungkap industri makanan rumahan dengan bahan dasar cokelat kedaluarsa di Desa Tanjekwagir, Krembung, Sidoarjo, Jawa Timur. Cokelat kadaluarsa itu didaur ulang atau diolah kembali untuk dijual lagi.

    "Tersangka berinisal HI, 39 tahun, sudah menjalankan usahanya sejak 2013," kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Timur, Komisaris Besar Nur Rohman, kepada wartawan di lokasi produksi cokelat daur ulang itu, Kamis 31 Maret 2015.

    Pengungkapan industri makanan rumahan itu berhasil dilakukan tim Ditreskrimsus pada Selasa, 29 Maret 2016, setelah mendapat informasi dari masyarakat. Modusnya adalah si tersangka sengaja membeli dan mengumpulkan cokelat wafer kedaluarsa untuk selanjutnya diolah dan jual kembali.

    Cokelat yang sudah diolah itu, kemudian dikemas dan dijual kembali dalam kemasan kado kabinet dan cokelat dalam kemasan kado kotak dengan merek MR. Concom seharga Rp 15-35 ribu. Cokelat itu diedarkan di wilayah Sidoarjo, Majokerto, dan Bangil yang seluruhnya di Jawa Timur.

    Sebagai barang bukti, polisi menyita diantaranya 21 karung wafer, 65 bal kado kotak, 50 bal kado kabinet, 1 mesin oven, dan 1 unit mesin penggiling. "Tersangka dalam melakukan kegiatan tersebut tidak memiliki izin edar melainkan hanya memiliki SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan)," kata Nur Rohman menambahkan.

    Polisi menjerat HI dengan Pasal 62 ayat 1 Junto Pasal 8 ayat 1 huruf g,h, dan i Undang-undang RI No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen atau Pasal 142 Undang-undang RI Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Ancaman hukumannya adalah penjara lebih dari lima tahun dan denda maksimal Rp 2 miliar.

    NUR HADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.