Permintaan Sederhana Ayah Nakhoda Kapal Brahma 12

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal Pengangkut Batu Bara di Sungai Mahakam. Tempo/Arnold Simanjuntak

    Kapal Pengangkut Batu Bara di Sungai Mahakam. Tempo/Arnold Simanjuntak

    TEMPO.CO, Klaten - Selain berharap agar Bayu Oktavianto segera dibebaskan, Sutomo, 48 tahun, ayah dari Bayu, tidak punya permintaan yang muluk-muluk kepada perusahaan tempat anaknya bekerja, PT Patria Maritime Lines Banjarmasin.

    “Kalau Bayu dan rekan-rekan kerjanya sudah bebas, saya meminta mereka dipulangkan. Biar bisa istirahat, libur dulu untuk menenangkan pikiran,” kata Sutomo, warga Dukuh Miliran, Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Kamis, 31 Maret 2016.

    Bayu Oktavianto adalah satu dari sepuluh awak kapal Brahma 12, yang disandera kelompok Abu Sayyaf, di daerah Sulu, Filipina, Sabtu, pekan lalu. Bayu merupakan nakhoda kapal yang sedang dalam perjalanan dari Banjarmasin menuju Filipina Selatan itu.

    Rabu lalu, Sutomo kembali dihubungi pihak PT Patria yang mengabarkan Bayu masih sehat. Dalam percakapan via telepon, Sutomo sempat menyatakan keinginannya agar Bayu diberi libur panjang, setelah bisa dibebaskan dari sandera. “Pihak perusahaan menyetujui permintaan saya,” ujar Sutomo.

    Meski khawatir dengan keselamatan anaknya, Sutomo mengaku tidak akan mencegah anaknya kembali bekerja di PT Patria. “Semua pekerjaan ada risikonya. Lagi pula Bayu sudah mencapai level nakhoda. Kalau pindah perusahaan, dia harus memulai karier dari nol,” katanya.

    Sutomo menambahkan, sejak kecil Bayu bercita-cita menjadi pelaut mengikuti jejak pamannya (adik Sutomo) yang juga bekerja di PT Patria. Setelah lulus dari SMP Negeri 2 Delanggu, Bayu langsung menempuh pendidikan Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang dan di Pertamina Maritime Training Center Jakarta. Bayu mulai bekerja di PT Patria pada 2010-2011.

    Dua tahun berlayar, anak sulung dari empat bersaudara itu melanjutkan pendidikan di Pertamina Maritime Training Center, lalu kembali bekerja di PT Patria, setelah lulus. “Saya tidak tahu berapa gajinya. Yang jelas, Bayu selalu mengirim uang berapa pun yang kami butuhkan,” kata sang ayah yang bekerja sebagai petani.

    Istri Sutomo, Rahayu, 47 tahun, mengatakan Bayu tulang punggung keluarga. “Uang untuk membangun rumah, sebagian besar juga pemberian Bayu,” kata Rahayu, yang bekerja sebagai buruh di pabrik tekstil di Sukoharjo.

    Rahayu berharap pemerintah segera membebaskan Bayu dari Filipina. “Dia sudah bertunangan dengan teman sekolahnya. Mereka baru akan menikah sekitar satu tahun lagi karena Bayu masih harus menabung,” katanya.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.