Bupati Dedi Sulap Tempat Sampah Jadi Laboratorium Pendidikan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi sampah. Shutterstock

    Ilustrasi sampah. Shutterstock

    TEMPO.CO, Bandung - Bupati Purwakarta, Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengatakan akan menjadikan tempat pengolahan limbah cair sisa pembuangan sampah atau air lindi sebagai tempat pendidikan. Tempat pembuangan akhir sampah berada di Desa Cikolotok, Kecamatan Pasawahan, Purwakarta.

    Pada tahap awal, kata Dedi, pihaknya akan menata semua bangunan dan infrastruktur pendukung lainnya di lokasi pembuangan air lindi dan TPA. "Semua harus representatif, sebab lokasi tempat pembuangan air lindi itu akan disulap menjadi laboratorium pendidikan," kata Dedi saat dihubungi pada Rabu, 30 Maret 2016.

    Destinasi wisata pendidikan yang baru itu, menurut Dedi, jika sudah tuntas dikerjakan, akan menjadi pusat pendidikan dan penelitian bagi pelajar dan mahasiswa. Mereka akan diajari mengelola sampah yang baik, yang tidak berdampak negatif terhadap lingkungan.

    Setelah belajar di laboratorium air lindi dan sampah, Dedi optimistis kesadaran para siswa dan mahasiswa untuk mengolah sampah terbangun. Akhirnya, hal itu menumbuhkan sikap sadar lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan.

    "Intinya, soal pembelajaran menjadi orientasi pokok kami dan efeknya langsung tumbuh dalam diri setiap pelajar, yakni menjadi insan yang sadar lingkungan," ujar Dedi.

    Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Purwakarta Ruslan Subanda mengatakan, ihwal pengelolaan sampah dan air lindi di TPA Cikolotok yang berbasis teknologi tinggi, yang terintegrasi dengan wisata pendidikan, sudah menjadi wacana sejak akhir 2015. Ada beberapa tim peneliti dari sejumlah universitas dari Bandung dan Jakarta yang telah mengunjungi TPA Cikolotok. Pengolahan sampah di Cikotok telah menerapkan control system refill (CSR).

    NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.