Unair: Mantan Rektor Sehat saat Ditetapkan Tersangka KPK  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • RS Unair Surabaya. Foto: rumahsakit.unair.ac.id

    RS Unair Surabaya. Foto: rumahsakit.unair.ac.id

    TEMPO.CO, Surabaya-Ketua Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Universitas Airlangga Suko Widodo membantah bahwa bekas Rektor Universitas Airlangga Fasichul Lisan dalam kondisi sakit saat ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (Baca: Kasus RS Unair, KPK Geledah Rektorat Unair 9 Jam)

    Sebelumnya tersiar kabar bahwa Fasichul dirawat di Ruang ICU Rumah Sakit Pendidikan Unair saat pengumuman sebagai tersangka dalam kasus korupsi pembangunan rumah sakit tersebut. "Beliau  sehat, kabar Pak Fasichul dirawat itu tidak benar," kata Suko, Rabu, 30 Maret 2016.

    Suko menuturkan yang dirawat adalah istri Fasichul, Muchnijah. Tapi Suko enggan menjelaskan penyakit yang diderita Muchnijah. "Masalah penyakit kok  diberitakan," kata dia.

    Pernyataan Unair ini membantah kabar yang tersiar sebelumnya. Tempo sempat mendatangi RS Unair tempat istri Fasichul dirawat. Seorang perawat sempat berkata kepada Tempo bahwa Fasich juga dirawat di ICU. Namun Tempo tak dibolehkan masuk ke ruang perawatan. (Baca: Jadi Tersangka, Mantan Rektor Unair Dirawat di ICU)

    Di depan pintu masuk ICU ada dua buah kertas bertuliskan 'Ibu Fasich saat ini belum bisa dijenguk.' Selain itu, setiap pengunjung yang ingin menjenguk Istri Fasichul selalu ditanya oleh seorang  satpam yang berjaga di depan pintu masuk ICU di lantai enam.

    KPK telah menetapkan Fasichul sebagai tersangka pembangunan Rumah Sakit Unair, Rabu 30 Maret 2016. Fasichul diduga memiliki peran sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Atas perbuatannya, negara ditaksir mengalami kerugian sekitar Rp 85 miliar dari total anggaran senilai Rp 300 miliar. (Baca: Korupsi RS Unair, KPK Tetapkan Mantan Rektor Unair Tersangka)

    EDWIN FAJERIAL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.