Anak Buah Kapal Disandera Abu Sayyaf, Perusahaan: No Comment

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto dokumen kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina. Kelompok yang mengklaim berafiliasi dengan ISIS ini menuntut uang tebusan bagi 10 WNI awak kapal Brahma 12. AP

    Foto dokumen kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina. Kelompok yang mengklaim berafiliasi dengan ISIS ini menuntut uang tebusan bagi 10 WNI awak kapal Brahma 12. AP

    TEMPO.CO, Bekasi - Situasi kantor PT Patria Maritime Lines—perusahaan pemilik kapal tug boat yang dibajak kelompok militan Abu Sayyaf—di Jalan Jababeka XI, Cikarang, Kabupaten Bekasi, pada Rabu, 30 Maret 2016, terlihat sepi. Manajemen perusahaan dikabarkan tak ada di tempat.

    "(Manajemen) Sedang pergi, enggak tentu datangnya kapan," kata petugas keamanan perusahaan, Setiawan, saat ditemui, Rabu, 30 Maret 2016. Setiawan meminta agar wartawan tak mengambil gambar di dalam lingkungan perusahaan, melainkan hanya di luar.

    Adapun pegawai di perusahaan tersebut enggan memberikan komentar ihwal kasus penyanderaan pegawai oleh Abu Sayyaf di Filipina. "Saya no comment," ujar seorang pegawai melalui sambungan telepon perusahaan kepada Tempo.

    Berdasarkan pengamatan Tempo, kantor perusahaan itu terlihat sepi. Pagar bercat abu-abu tersebut tertutup rapat. Hanya ada dua petugas keamanan berjaga, dan sejumlah kendaraan pribadi milik pegawai terparkir. Tak terlihat aktivitas pegawai di luar perusahaan, sementara di dalam tak tampak karena kaca gelap.

    Kantor perusahaan itu terlihat cukup besar. Berdiri di atas lahan lebih dari 5.000 meter persegi dengan halaman cukup luas, gedung itu terdiri atas 2 lantai. Di belakang kantor terlihat banyak alat berat milik perusahaan tersebut.

    Ada dua kapal yang awalnya disandera Abu Sayyaf, yaitu kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12, yang membawa 7.000 ton batu bara dan sepuluh awak kapal berkewarganegaraan Indonesia. Pembajakan diketahui setelah pemilik kapal, PT Patria Maritime Lines, mendapat dua kali telepon dari Abu Sayyaf yang meminta tebusan pada Sabtu lalu. Tebusan yang diminta 50 juta peso (sekitar Rp 15 miliar).

    ADI WARSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.