Uni Eropa Donasikan Rp 96 Miliar untuk Iklim Aceh  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas YOSL-OIC dan BKSDA Aceh, menyaksikan orangutan Sumatra yang dipindahkan ke hutan lindung kawasan ekosistem Leuser Aceh Tamiang, Aceh, 4 April 2015. ANTARA/Irsan Mulyadi

    Petugas YOSL-OIC dan BKSDA Aceh, menyaksikan orangutan Sumatra yang dipindahkan ke hutan lindung kawasan ekosistem Leuser Aceh Tamiang, Aceh, 4 April 2015. ANTARA/Irsan Mulyadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Uni Eropa mengumumkan dukungannya terhadap pemulihan iklim di Provinsi Aceh. Uni Eropa mendonasikan 6,5 juta euro atau Rp 96,5 miliar untuk program yang diberi nama Support to Indonesia's Climate Change Response atau Dukungan untuk Tanggapan Indonesia terhadap Perubahan Iklim itu. Proyek bantuan ini diberikan untuk periode 2016-2019.

    Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Vincent Guerend, mengatakan Uni Eropa telah lama menjalin hubungan dengan Aceh. "Dari pemberian dana rekonstruksi pasca-tsunami, dukungan bagi proses perdamaian di Aceh, sampai bantuan untuk perlindungan dan pelestarian lingkungan," ucap Vincent saat berkunjung di Pendapa Gubernur Aceh, Rabu, 30 Maret 2016.

    Ia menjelaskan, Uni Eropa tertarik melanjutkan kerja sama dengan Aceh, khususnya mendukung upaya mitigasi perubahan iklim dan pembangunan ekonomi secara berkesinambungan. "Upaya ini termasuk mengkaji keberhasilan dari wilayah lain di Sumatera yang dapat diterapkan di Aceh," ujar Vincent.

    Proyek terbaru ini, tutur dia, dirancang untuk mendukung program Aceh agar dapat sejalan dengan strategi Reduction of Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) Indonesia. REDD+ berusaha mengurangi emisi dari deforestasi alias penebangan hutan dan penurunan kualitas hutan.

    Uni Eropa juga ingin membantu pemerintah Aceh meningkatkan kapasitas dalam menerapkan keputusan pemanfaatan lahan yang baik. Vincent berharap proyek ini bisa mendukung upaya nasional dalam mitigasi perubahan iklim.

    Jika memperhatikan kemakmuran masyarakat, kata Vincent, mengembangkan ekonomi tidak harus merusak lingkungan hidup. "Pertumbuhan ekonomi dan lingkungan hidup bisa secara bersama maju tanpa harus bertentangan," ujarnya.

    Menurut Vincent, Uni Eropa sangat tertarik mendukung Aceh. Sebab, ucap dia, provinsi tersebut unik. Sumber daya hutannya masih berfungsi dengan baik, utuh, dan luas. Jadi Aceh bisa menjadi standar bagi Indonesia serta dunia dalam hal mitigasi perubahan iklim melalui pemanfaatan lahan dan kehutanan.

    Vincent menuturkan proyek kerja sama ini dalam bentuk pendampingan teknis. "Kami bekerja sama dengan ahli, NGO, dan mitra pelaksana, agar kehutanan serta konservasi di alam bisa berkelanjutan dan illegal logging bisa diatasi."

    Gubernur Aceh Zaini Abdullah berterima kasih kepada Uni Eropa. Menurut dia, berbagai kegiatan sudah dilakukan pemerintah daerah. Ia mengatakan pemda akan berembuk untuk membicarakan teknis pemanfaatan bantuan ini.

    REZKI ALVIONITASARI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.