Orang Tua Terduga Teroris Poso Dijemput Polisi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Polisi membawa anggota kelompok teroris Santoso yang tewas saat baku tembak dengan anggota Brimob dan Densus 88 di Desa Sakina Jaya, Parig, Sulawesi Tengah,3 April 2015. Polisi menduga sekitar 10 orang kelompok teroris Santoso terlibat baku tembak dengan aparat. ANTARA /Fiqman Sunandar

    Anggota Polisi membawa anggota kelompok teroris Santoso yang tewas saat baku tembak dengan anggota Brimob dan Densus 88 di Desa Sakina Jaya, Parig, Sulawesi Tengah,3 April 2015. Polisi menduga sekitar 10 orang kelompok teroris Santoso terlibat baku tembak dengan aparat. ANTARA /Fiqman Sunandar

    TEMPO.CO, Bima - Sukardin, 50 tahun, orang tua Ishaka alias Anton alias Tiger, 24 tahun, dijemput polisi untuk dibawa ke Poso, Rabu, 30 Maret 2016. Adapun Ishaka adalah salah satu terduga teroris yang tewas saat baku tembak dengan aparat gabungan di Poso, Sulawesi Tengah, 22 Maret lalu.

    Paman Ishaka, Usman, mengatakan Sukardin dijemput di rumahnya di RT 02 RW 01, Desa O’o, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, pada pukul 09.00 WIT.

    Sukardin dijemput menggunakan mobil dinas Kepolisian Sektor Dompu. "Kata polisi, mau ke Poso untuk tes DNA," ucap Usman saat ditemui Tempo di ruang tunggu Bandara Sultan Salahudin, Bima, Rabu, 30 Maret 2016.

    Sukardin dibawa ke Poso dengan menumpang pesawat Wings Air. Sukardin tampak pucat dan sering batuk. Dia Mengenakan baju batik kuning-hitam dan celana hitam.

    Saat ditemui Tempo, Sukardin mengaku terkejut atas berita tentang anaknya yang ditembak mati di Poso. Saat ditanya kapan anaknya terlibat dengan kelompok Santoso, Sukardin mengaku tidak tahu. “Saya sudah dua tahun enggak pernah ketemu anak saya,” ujarnya dengan mulut bergetar.

    Sukardin berharap jenazah anaknya bisa dimakamkan di tempat kelahiran di Bima. “Sebagai orang tua, saya ingin anak saya kembali ke Bima, meski sudah menjadi jenazah,” tuturnya sambil menundukkan kepala.

    Sukardin yang beristrikan Jauriah, 48 tahun, mengatakan Ishaka merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Lulus dari salah satu pondok pesantren terkemuka di Kota Bima, Ishaka pergi ke Makassar untuk melanjutkan kuliah. Di Makassar, Ishaka tercatat sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar. “Setahu kami, Ishaka di Makassar. Saya tidak tahu kalau dia di Poso," ucapnya.

    Sukardin menjelaskan, keluarga kaget saat mengetahui Ishaka menjadi salah satu terduga teroris yang tewas di Poso. Dalam kehidupan sehari-hari, Ishaka cenderung pendiam dan sering mengaji. "Saya juga baru tahu dia meninggal dunia kemarin malam.”

    Kepala Polsek Donggo Inspektur Satu Safrudin membenarkan kabar penjemputan Sukardin. “Benar, orang tuanya dibawa ke Poso untuk dilakukan tes DNA.”

    AKHYAR M. NUR



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.