Siap Bertindak, TNI Sudah Tahu Lokasi Sandera Disembunyikan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memeriksa pasukan usai memimpin apel gelar pasukan Komando Operasi Pengamanan VVIP KTT Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) 2016 di Lapangan Monas, Jakarta, 1 Maret 2016. KTT OKI sendiri akan berlangsung pada 6-7 Maret mendatang. TEMPO/Subekti.

    Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memeriksa pasukan usai memimpin apel gelar pasukan Komando Operasi Pengamanan VVIP KTT Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) 2016 di Lapangan Monas, Jakarta, 1 Maret 2016. KTT OKI sendiri akan berlangsung pada 6-7 Maret mendatang. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan akan memprioritaskan keselamatan sepuluh anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang menjadi korban pembajakan oleh kelompok ekstremis Abu Sayyaf di perairan Filipina. "Seperti yang sudah disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, prioritas kami adalah menyelamatkan WNI yang disandera," ucapnya di Aula Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, Rabu, 30 Maret 2016.

    Gatot menuturkan TNI telah berkoordinasi dengan militer Filipina dan telah mengantongi berbagai informasi. Salah satunya lokasi penyanderaan. "Berdasarkan monitor, saya koordinasi dengan tim operasi dari Filipina bahwa lokasi ada di daerah Filipina, dan mereka sudah tahu lokasinya," ujarnya.

    Gatot mengatakan sejauh ini belum ada anggota TNI yang diutus langsung ke lokasi untuk menyelamatkan sandera. Sebab, lokasinya berada di luar batas Indonesia. "Menlu sudah menyampaikan lokasinya ada di Filipina, sehingga kami hanya memantau," ucapnya.

    Kendati demikian, Gatot menuturkan pihaknya membuka komunikasi dengan militer Filipina, termasuk soal kebutuhan yang diperlukan Filipina untuk menyelamatkan sandera. "Setiap saat saya koordinasi dengan panglima militer Filipina, Hernando Iriberri. Saya juga menyampaikan, apa pun yang dibutuhkan pemerintah Filipina, kami siap. Siapnya bagaimana? Itu adalah urusan saya," ujarnya.

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, mengatakan pemilik kapal yang dibajak sudah dua kali ditelepon seseorang yang mengaku bagian dari kelompok Abu Sayyaf. "Melalui telepon, pembajak meminta uang tebusan," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa, 29 Maret 2016.

    Pembajakan menimpa kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12, yang membawa 7.000 ton batu bara dan sepuluh awak kapal asal Indonesia. Pembajakan terjadi ketika dua kapal itu sedang dalam perjalanan dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan, menuju Batangas, Filipina selatan.

    Saat ini kapal Brahma 12 sudah dilepaskan dan berada di tangan otoritas Filipina. Adapun kapal Anand 12 dan sepuluh awak kapalnya masih disandera.

    ABDUL AZIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.