Disandera Teroris Abu Sayyaf, Ini Kata Keluarga Rinaldi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto dokumen kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina. Kelompok yang mengklaim berafiliasi dengan ISIS ini menuntut uang tebusan bagi 10 WNI awak kapal Brahma 12. AP

    Foto dokumen kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina. Kelompok yang mengklaim berafiliasi dengan ISIS ini menuntut uang tebusan bagi 10 WNI awak kapal Brahma 12. AP

    TEMPO.CO, Makassar - Warga Jalan Tinumbu Lorong 132 J Nomor 12, Kelurahan Layang Kecamatan Bontoala, Makassar, Rinaldi, 25 tahun, merupakan satu dari 10 warga negara Indonesia yang disandera militan Abu Sayyaf. Tante Rinaldi, Hamsyar, 47, yang ditemui Tempo di rumahnya, berharap pemerintah melakukan upaya  terbaik dan mengembalikan kemenakannya dalam kondisi selamat.

    "Semoga dia bisa kembali dengan selamat. Saya serahkan sepenuhnya kepada pemerintah," kata Hamsyar, Rabu, 30 Maret 2016.

    Rinaldi merupakan anak buah kapal (ABK) Brahma 12. Ia menjadi ABK kapal rute luar negeri sejak Januari 2016. Sebelumnya, ia merupakan ABK kapal dalam negeri, yakni di Kalimantan. "Desember 2015 pulang dari Kalimantan melanjutkan sekolahnya di Pelatihan Ilmu Pelayaran Barombong, Makassar. Setelah sekolah dan dapat sertifikat baru, Januari kemarin dapat kerja di kapal luar negeri. Sebelumnya, cuma di Kalimantan," tutur Hamsyar.

    Sebelum berangkat berlayar pada Januari lalu, menurut Hamsyar, Naldi, sapaan akrab Rinaldi, sempat berpesan agar anak sulungnya (sepupu Naldi), Parwansyah, 19, disekolahkan di sekolah pelayaran. "Karena katanya gajinya besar, dia bilang itu sama suami saya sebelum berangkat," ucap ibu tiga anak ini.

    Hamsyar mendapat kabar soal kapal yang ditumpangi kemenakannya disandera teroris sejak 26 Maret 2016. Kabar itu diterima dari sambungan telepon ayah Rinaldi, Amiruddin, yang tinggal di Wotu, Luwu Timur. "Katanya, kapal Naldi (sapaan akrab Rinaldi) dibajak sama teroris. Saya disuruh mengabari semua keluarga dan disuruh mendoakan agar selamat," tutur Hamsyar.

    Hamsyar mengisahkan, sejak tamat SMA pada 2009, Rinaldi datang ke Makassar dan tinggal di rumahnya. Kedatangan Rinaldi, menurut Hamsyar, untuk mengubah hidupnya. Sebab, di Wotu, ia tidak kerja apa-apa. Apalagi orang tuanya tidak memiliki pekerjaan tetap. "Dia ingin mengubah hidupnya, makanya dititipkan sama bapaknya di rumah agar dapat kerja," ujar Hamsyar.

    Sebelum sekolah di PIP Barombong, Naldi sempat bekerja sebagai sales promotion boy (SPB) di salah satu pusat perbelanjaan di Makassar. Sebagai SPB, Naldi tidak terlalu bergaul dengan tetangga sekitar. "Kerjanya banyak di luar," ucap Hamsyar.

    Hamsyar mengatakan Naldi merupakan anak yang pendiam dan jarang cerita soal pekerjaannya. Namun tekadnya mengubah taraf hidup keluarga sangat besar. "Ia mengaku berniat sekolah di pelayaran karena lihat temannya banyak gajinya. Makanya kami sekeluarga patungan untuk sekolah Naldi. Syukur Alhamdulillah dia bisa kerja dan sering mengirim uang ke orang tuanya di Wotu," kata Hamsyar.

    Selain mengirim sejumlah uang ke orang tuanya, Naldi saat ini membiayai kuliah adiknya, Rifaldi, di Universitas Bosowa 45 Makassar.

    Ketua RT 003 Kelurahan Layang, Rusmini, mengatakan Naldi merupakan anak yang pendiam, tapi murah senyum. "Dia jarang bicara. Nanti bicara kalau ditanya. Saat tinggal di rumah tantenya, dia sering duduk-duduk di depan rumah," ujarnya.

    SAHRUL ALIM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?