Kapal Brahma Dibajak, Ayah Nahkoda Dilarang Lapor ke Polisi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sutomo, 47 tahun, warga Dukuh Miliran, Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, menunjukkan foto anak sulungnya, Bayu Oktavianto, 22 tahun, yang bekerja di PT Patria (PT Patria Maritim Lines Banjarmasin) sebagai nahkoda di kapal Brahma 12. Kapal Bayu disandera kelompok teroris Abu Sayyaf di sebuah pulau wilayah Filipina sejak Sabtu sore pekan lalu. TEMPO/Dinda Leo Listy

    Sutomo, 47 tahun, warga Dukuh Miliran, Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, menunjukkan foto anak sulungnya, Bayu Oktavianto, 22 tahun, yang bekerja di PT Patria (PT Patria Maritim Lines Banjarmasin) sebagai nahkoda di kapal Brahma 12. Kapal Bayu disandera kelompok teroris Abu Sayyaf di sebuah pulau wilayah Filipina sejak Sabtu sore pekan lalu. TEMPO/Dinda Leo Listy

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan pemilik kapal Brahma 12 yang dibajak kelompok Abu Sayyaf sempat menghubungi keluarga salah satu awak kapal itu. Sutomo, ayah Bayu Oktavianto, yang juga nahkoda kapal itu mengatakan PT Patria Maritim Lines sempat menghubunginya dan meminta Sutomo tak melaporkan kasus ini ke polisi. Sebabnya pihak perusahaan menjaga keamanan dan keselamatan awak kapal yang disandera.

    “Katanya demi keamanan para sandera,” kata Sutomo saat ditemui Tempo di rumahnya di Dukuh Miliran, RT 1 RW 3, Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Selasa malam, 29 Maret 2016. Sutomo menyanggupi permintaan itu demi keselamatan anak sulungnya, Bayu Oktavianto, 22 tahun.

    Bayu Oktavianto adalah satu dari sepuluh awak kapal penarik tongkang bermuatan batu bara yang disandera di sebuah pulau di Filipina yang berbatasan dengan wilayah Malaysia, Sabtu sore pekan lalu. Di kapal yang sedang dalam perjalanan dari Banjarmasin menuju Filipina itu, Bayu bertugas sebagai nahkoda.

    Sutomo mengatakan, dalam percakapan via telepon, pihak perusahaan PT Patria mengatakan anaknya dalam kondisi sehat. “Bayu dan sembilan rekan kerjanya ditampung dan dipelihara di sebuah rumah. Tapi pulaunya di mana, pihak perusahaan belum tahu,” kata Sutomo.

    Kelompok teroris yang menyandera Bayu, kata Sutomo, meminta tebusan kepada PT Patria sebesar 50 juta peso atau sekitar Rp 15 miliar. “Tapi mereka meminta tebusan itu diberikan dalam mata uang peso, bukan rupiah atau dolar,” kata Sutomo.

    Setelah beberapa jam menahan keinginan untuk melapor ke kepolisian, Sutomo akhirnya dapat bernapas lega. Sebab, televisi di ruang tamunya mulai menyiarkan berita ihwal respons cepat pemerintah dalam upaya membebaskan para awak kapal Brahma 12. “Saya berharap Bayu dan teman-temannya bisa segera dibebaskan,” kata Sutomo.

    Istri Sutomo, Rahayu, menambahkan Bayu sempat menelepon sekitar dua pekan lalu. “Bayu mengabarkan kapalnya akan berangkat dari Banjarmasin dengan tujuan Filipina. Dia juga meminta doa kepada kami agar senantiasa diberi keselamatan,” kata perempuan 47 tahun itu.

    Bayu anak pertama dari empat bersaudara. Setelah lulus dari SMP Negeri 2 Delanggu, Bayu melanjutkan pendidikan ke Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang. “Hanya beberapa bulan saja dia sekolah di Semarang. Setelah itu Bayu melanjutkan pendidikan pelayaran di Jakarta,” kata Rahayu. Bayu mulai bekerja di PT Patria sekitar 2010.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.