Istri Siyono Serahkan Dua Gepok Uang kepada Muhammadiyah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pelayat mengusung peti mati berisi jenazah Siyono dari mobil ambulans untuk diganti kain kafannya di Klaten, Jawa Tengah, 13 Maret 2016. Belum diketahui dengan pasti apa penyebab kematian Siyono. TEMPO/Dinda Leo Listy

    Para pelayat mengusung peti mati berisi jenazah Siyono dari mobil ambulans untuk diganti kain kafannya di Klaten, Jawa Tengah, 13 Maret 2016. Belum diketahui dengan pasti apa penyebab kematian Siyono. TEMPO/Dinda Leo Listy

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Upaya istri terduga teroris Siyono, Suratmi, menguak keganjilan kematian suaminya terus berlanjut. Dia membolehkan otopsi terhadap jenazah suaminya. Kini Suratmi menyerahkan dua gepok uang kepada salah satu Pengurus Pusat Muammadiyah, Busyro Muqoddas, kemarin.

    "Saya titipkan uang ini ke PP Muhammadiyah," kata Suratmi alias Mufida, di kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Selasa 29 Maret 2016.

    Uang itu dia terima di satu hotel di Jakarta oleh orang yang mengaku bernama Ayu, Lastri dan tiga orang lain saat Suratmi diminta polisi ke Jakarta mengambil jenazah suaminya yang tewas ditangan Detasemen Khusus 88 Antiteror. Uang itu sebagai uang solidaritas terhadap kematian suaminya.

    Saat itu Ayu, mengatakan agar Suratmi mengiklaskan kematian Siyono. Usai menerima uang, dia diminta meneken lima pernyataan tertulis, antara lain: tak akan menempuh jalur hukum atas kematian suaminya, tak akan melakukan otopsi ulang jenazah Siyono, harus mengikhlaskan kematian Siyono. "Saya hanya baca sekilas," kata dia.

    Bahkan, ujar Suratmi, pada Senin malam lalu Ayu itu kembali datang ke rumahnya di Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ayu datang bersama Lastri dan Cecep. Ayu mengulang lagi perkataannya. "Sudah, jangan berlarut-larut, ini sudah menjadi takdir," kata Suratmi menirukan perkataan Ayu.

    Suratmi belum membuka bungkusan uang itu, karena dia takut. "Saya tidak berani," kata ibu lima anak ini. Upaya membujuk Surami terus dilakukan. Ahad pekan lalu mertuanya, Marso, diminta menemui kepala desa. Menurut Suratmi, Marso diminta membujuk dirinya agar bersedia mengikhlaskan kematian Siyono.

    Busyro Muqoddas menyatakan, kasus seperti Siyono sering terjadi. Banyak orang yang lugu dan tidak tahu apa-apa, tapi kemudian diberi label terduga teroris oleh Kepolisian. "PP Muhammadiyah akan mengadvokasi," kata dia.

    Siyono ditangkap Detasemen Khusus 88 Anti Teror pada 8 Maret lalu seusai menjalankan shalat magrib. Polisi mengabarkan kematian Siyono pada keluarganya pada 11 Maret lalu.

    MUH SYAIFULLAH | DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.