Menteri Luhut: Pembajakan Kapal Tak Terkait Santoso di Poso  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Politik, Hukum, dan Keamanan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Politik, Hukum, dan Keamanan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Skouw - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan membantah kabar bahwa pembajakan kapal Indonesia oleh kelompok Abu Sayyaf ada hubungannya dengan kelompok Muhajidin Indonesia Timur pimpinan Santoso di Poso, yang semakin terdesak karena Operasi Tinombala. "Ndak ada hubungannya, terlalu jauh," ucap Luhut.

    Luhut mengatakan pemilik kapal Brahma 12 akan berunding dengan kelompok Abu Sayyaf. Abu Sayyaf meminta tebusan 50 juta peso. "Sedang kita koordinasikan dengan pihak-pihak terkait," ujar Luhut di perbatasan Papua dengan Papua Nugini, Selasa, 29 Maret 2016.

    Baca: Kapal Indonesia Disandera, BIN: Pembajak Minta Tebusan

    Kelompok Abu Sayyaf membajak kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 yang membawa 7.000 ton batu bara dan sepuluh awak kapal asal Indonesia.

    Pembajakan terjadi kala kedua kapal dalam perjalanan dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan, menuju Batangas, Filipina selatan. Saat ini kapal Brahma 12 sudah dilepaskan dan berada di tangan otoritas Filipina. Sedangkan kapal Anand 12 serta sepuluh awak kapal masih disandera dan belum diketahui keberadaannya.

    Dalam sebuah foto surat persetujuan berlayar yang diunggah akun Facebook Peter Tonsen Barahama, yang disebut-sebut sebagai kapten kapal itu, diketahui kapal TB Brahma 12 memuat batu bara dan bertolak dari Pelabuhan Trisakti menuju Filipina pada 15 Maret 2016. Surat tersebut juga menuliskan, awak kapal berjumlah sepuluh orang.  

    TIKA PRIMANDARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.