Banjir di Jambi Dikhawatirkan Meluas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi banjir. REUTERS/Enny Nuraheni

    Ilustrasi banjir. REUTERS/Enny Nuraheni

    TEMPO.CO, Jambi - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jambi Arif Munandar mengatakan banjir bandang akibat meluapnya air Sungai Batang Asai dikhawatirkan kian meluas. “Hujan masih terus terjadi sehingga potensi banjir kian meluas,” ujarnya kepada Tempo, Selasa, 29 Maret 2016.

    Senin kemarin, 28 Maret 2016, banjir bandang menerjang delapan desa di Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Banjir menenggelamkan sedikitnya 87 unit rumah warga. Sebuah rumah di Desa Panca Karya hanyut. Begitu pula sebuah jembatan.

    Menurut  Arif, saat ini banjir mulai mengancam Kecamatan Pauh dan Kota Sarolangun. Di Kota Sarolangun, air sudah mulai menggenangi kawasan Kompi TNI Senapan A di Kelurahan Gunung Kembang. Genangan air juga terjadi di Kelurahan Sarolangun Kembang, Kecamatan Sarolangun. Ketinggian air mencapai 50-75 sentimeter.

    Bupati Sarolangun Cek Endra bersama unsur pemimpin daerah saat ini sedang mengunjungi korban banjir di Kecamatan Limun. Bupati memberi bantuan berupa beras, mi instan, dan lauk-pauk.

    Para pengungsi di kawasan Limun sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing, kecuali satu keluarga di Desa Panca Karya. Keluarga itu masih harus mengungsi di rumah saudaranya karena rumahnya hanyut tersapu banjir bandang.

    Kepala Kepolisian Resor Sarolangun Ajun Komisaris Besar Bostang mengatakan saat ini anggota tim dari unit reaksi cepat sedang melakukan perbaikan Dam Kuntur yang jebol saat banjir bandang. "Petugas juga memperbaiki fasilitas umum lainnya yang rusak, termasuk rumah warga," ujarnya.

    Berdasarkan informasi yang diperoleh Tempo, Gubernur Jambi Zumi Zola hari ini dijadwalkan meninjau lokasi banjir di Kabupaten Sarolangun.

    SYAIPUL BAKHORI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.