Perayaan Paskah, Ibu Berjilbab Ini 3 Kali ke Gereja  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Umat Katolik membawa lilin dalam ibadah Misa Malam Paskah di pertapaan st.Maria Rawa Seneng, Temanggung, 26 Maret 2016. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo.

    Umat Katolik membawa lilin dalam ibadah Misa Malam Paskah di pertapaan st.Maria Rawa Seneng, Temanggung, 26 Maret 2016. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo.

    TEMPO.CO, Temanggung - Dwi Winarni Indrawati, 64 tahun, tak sungkan masuk ke Gereja Santa Perawan Maria di Pertapaan Trappist Rawaseneng, Temanggung, Jawa Tengah. Selama tiga hari, sejak perayaan Jumat Agung hingga Minggu Paskah, perempuan berjilbab itu berbaur dengan umat Katolik.

    Tak sekalipun warga Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, itu meninggalkan tempat duduknya. Hanya saja, dia tidak ikut berdiri, atau berlutut seperti umat Katolik lainnya.

    "Saya di sini untuk mengikuti perayaan Paskah bersama anak saya," kata Dwi Winarni yang ditemani kemenakannya, Happy. Dwi kini menjanda setelah suaminya meninggal.

    Anaknya, Satrio Indro Mulyono, menjadi novis atau calon rahib di Pertapaan Trappist Rawaseneng. Menjadi rahib berarti seumur hidup tinggal di biara dan tak meninggalkan biara kecuali dalam kondisi tertentu.

    Baca juga: Warga Lintas Agama Bikin Semarak Prosesi Samana Santa

    Dwi Winarni sadar Satrio tak bisa pulang kecuali diizinkan pemimpin Biara Trappist. Pun mengunjungi Satrio tak bisa dilakukan setiap pekan atau sebulan sekali. Hanya pada saat tertentu pemimpin biara membolehkan orang tua mengunjungi anaknya yang menjadi rahib.

    Menurut Dwi Winarni, Satrio yang kini dipanggil Frater Mario menjadi Katolik saat SMA. Semula, Dwi Winarni menolak keinginan anak ketiganya tersebut. Namun, Dwi Winarni akhirnya memilih pasrah.

    Dia lebih kaget lagi ketika Satrio menyatakan ingin menjadi rahib setelah lulus dari Universitas Brawijaya, Malang. "Berat rasanya hati saya. Tapi itu keinginan dia. Saya tidak boleh menghambat dia," ujar Dwi Winarni yang biasa dipanggil Nanik ini.

    Kini, Dwi Winarni memilih ikhlas dan melepas anaknya ke Biara Trappist. Dia pun bangga atas pilihan anaknya. "Saya minta dia serius dan konsisten terhadap pilihannya."

    Dwi Winarni pun menerima ucapan selamat Paskah dari umat dan penghuni biara. Dia selalu menerima salam tersebut diiringi senyum. "Saya percaya semua agama baik. Kita bisa saling menghargai," ujarnya.

    PRAMONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.