Cegah Horor Sampah, Ridwan Kamil Usul Bendungan Sampah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemulung mencari sampah plastik di jembatan Sungai Cikapundung di Jalan Raya Bojongsoang menuju Dayeuhkolot di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 6 Maret 2016. Selain tergerus banjir, lautan sampah di sungai Cikapundung juga menjadi salah satu sebab retaknya pondasi jembatan ini. TEMPO/Prima Mulia

    Pemulung mencari sampah plastik di jembatan Sungai Cikapundung di Jalan Raya Bojongsoang menuju Dayeuhkolot di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 6 Maret 2016. Selain tergerus banjir, lautan sampah di sungai Cikapundung juga menjadi salah satu sebab retaknya pondasi jembatan ini. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.COBandung - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil tengah menyiapkan rencana membuat bendungan sampah untuk mencegah aliran sampah yang menyumbat sungai, seperti di Sungai Cikapundung, Jembatan Cijagra, dan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. 

    “Bendungan sampah ini engineering solusinya, membuat bendungan, air mengalir, sampah tertahan, kita piket,” kata Ridwan Kamil dalam rapat membahas solusi horor sampah itu bersama Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar dan Bupati Bandung Dadang Naser di Gedung Sate, Bandung, Rabu, 23 Maret 2016.

    Menurut Ridwan Kamil, usul itu sempat disampaikan ke pemerintah provinsi. Dia mengaku sulit mewujudkan ide tersebut karena anggaran membangunnya besar. Bendungan sampah, misalnya, bisa dibangun tiap jarak sepertiga sungai pada anak-anak sungai yang ada. 

    Kendalanya, di Kota Bandung ada 40 sungai. “Itu UUD, ujung-ujungnya duit. Jadi saya lagi lobi supaya bisa masuk di Anggaran Perubahan,” kata Ridwan Kamil.

    Ridwan Kamil belum bisa merinci jumlah bendungan sampah tersebut. Namun taksirannya butuh miliaran rupiah untuk membangun bendungan sampah itu. “Hari ini datanya terlalu mentah. Kalau sudah jelas, akan kami sampaikan. Tapi solusi kultural penting. Pada saat kultural belum berhasil, masih ada sampah yang ke sungai, (solusi) engineering masuk. Kalau tidak, sama aja bohong,” katanya.

    Ridwan Kamil mengaku sudah mengupayakan menekan volume sampah lewat program biodigester komunal skala RT (Rukun Tetangga). Dari 9.700 RT di Kota Bandung, sudah 1000-an yang mendapat pembagian biodigester untuk eksperimen tahun ini. “Kita sedang membuat biodigester skala kecamatan kalau sampahnya tidak habis di RT dengan teknologi Jerman,” katanya.

    Menurut Ridwan Kamil, selama ini ia sengaja membatasi diri ikut nimbrung membicarakan masalah Sungai Citarum karena keterbatasan kewenangan. “Hanya karena tidak pernah ada diskusi menyeluruh yang sifatnya kami bisa berkontribusi lebih fundamental, saya membatasi diri,” ujarnya.

    Sejumlah rencana tengah ia siapkan, misalnya untuk mengurangi air langsung mengalir ke Sungai Citarum di Kota Bandung. “Air ini kebanyakan dialirkan, hampir 100 persen lewat sungai dan berakhirnya di Citarum, sehingga konsep kita adalah mencegat air jangan sampai dialirkan semuanya ke sungai,” kata Ridwan.

    Rencana yang tengah ia siapkan antara lain membuat reservoir air bawah tanah di sejumlah lokasi di Kota Bandung. Di Pasar Gedebage, misalnya, akan dibangun percontohan reservoir air bawah tanah untuk mencegat air. “Kami punya enam-tujuh lokasi, kalau punya cegat air ini, nanti yang tumpah ke Citarum berkurang,” kata Ridwan Kamil.

    Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Jawa Barat Eddy S. Nasution mengatakan konsep hampir serupa yang digagas Ridwan Kamil itu adalah trash rack. “Semacam mesin dan sudah difungsikan di DKI. Dengan mesin secara otomatis memindahkan sampah dari badan sungai ke tepi sungai, hanya saja pengoperasiannya butuh energi,” katanya dalam rapat itu, Rabu, 23 Maret 2016.

    Eddy mengatakan sudah membuat satu contoh trash rack itu di Sungai Cikapundung dekat daerah Pasar Kordon. “Kita sudah bangun, tapi tidak dioperasikan, saya tidak tahu kenapa. Kemudian di Cimahi juga sudah bikin juga itu. Kalau mau dibuat, model seperti itu bisa jadi salah satu bentuknya, atau model lain,” katanya.

    Menurut Eddy, kendati masalah sampah tuntas, masih tersisa masalah banjir. Daerah Dayeuhkolot, misalnya, merupakan daerah rendah yang menjadi tempat parkir air dan sebagai daerah pertemuan Sungai Cikapundung dan Sungai Citarum. Rekayasa teknis yang dilakukan terhadap sungai itu tetap akan menyisakan daerah tergenang air saat puncak hujan seluas 200 hektare.

    Eddy mengusulkan agar disusun pemetaan daerah yang menjadi genangan air dan memberlakukan kebijakan pengetatan pemberian Izin Mendirikan Bangunan di wilayah itu. Atau lebih ekstrem lagi, membatalkan izin bangunan yang sudah diberi agar warga perlahan mau pindah dari daerah sana.

    Bupati Bandung Dadang Naser meminta tidak ada lagi ego sektoral agar bisa menyelesaikan masalah sampah dan banjir yang dihadapi Sungai Citarum dan anak-anak sungainya, sekaligus menyiapkan rekayasa sosial warga yang menghuni seputaran sungai itu sejak hulu hingga hilirnya. “Masyarakatnya masih belum sadar, rakyat kita di mana-mana belum sadar mengelola sampah,” katanya.

    Rapat bersama antara Wakil Gubernur Jawa Barat, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, serta Bupati Bandung Dadang Naser menyepakati untuk membagi tugas penyelesaian masalah sampah yang menyumbat aliran Sungai Citarum. “Ini menyangkut rencana aksi multipihak implementasi pekerjaan,” kata Deddy Mizwar, selepas rapat tersebut. Rencana itu akan dibahas selanjutnya di tataran teknis.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...