Ratusan Unggas Mati di Yogyakarta Diduga Kena Flu Burung  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menyita burung merpati saat razia unggas yang digelar Pemkot Jakarta Pusat di lapak burung merpati yang berada di jalan Kwitang, Jakarta, 18 November 2015. Penertiban tersebut dilakukan guna mencegah penyebaran virus flu burung. TEMPO/Subekti

    Petugas menyita burung merpati saat razia unggas yang digelar Pemkot Jakarta Pusat di lapak burung merpati yang berada di jalan Kwitang, Jakarta, 18 November 2015. Penertiban tersebut dilakukan guna mencegah penyebaran virus flu burung. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Ratusan unggas di Blunyahrejo, Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta, mati mendadak dalam kurun satu pekan terakhir. Unggas tersebut diduga kuat terkena flu burung.

    Edy Irianto, 54 tahun, salah satu pemilik unggas membenarkan unggas di sekitar tempat tinggalnya mati mendadak secara berurutan pascagerhana matahari lalu. "Setiap hari ada yang mati, tidak langsung bersamaan, selama satu minggu," ujar warga RT 19 RW 5 ini pada Rabu, 23 Maret 2016.

    Unggas miliknya yang mati terdiri atas 25 itik dan 25 ayam. Beberapa tetangganya juga mengalami hal serupa, puluhan unggas yang dipelihara mereka mati mendadak. Bahkan, bebek yang biasanya lebih tahan dan kebal dari penyakit pun ada yang ikut mati.

    Edy sudah melapor kepada petugas kesehatan hewan, dan petugas datang melakukan tes di tempat. "Dua hari di tes pada Kamis dan Jumat minggu lalu, petugas bilang ini flu burung," tuturnya.

    Ia pun segera membakar bangkai unggas dan oleh petugas diberi cairan disinfektan yang disemprotkan ke areal kandang. Setelah pemeriksaan, sampai hari ini tidak ada lagi unggas yang mati di wilayahnya.

    Edy mengaku sempat khawatir dengan flu burung karena setelah tes dari petugas peternakan, ia mengalami flu. Puskesmas menjadi tujuannya dan ia memperoleh obat. "Flu biasa ternyata," katanya.

    Diungkapkannya, kejadian serupa sudah pernah melanda wilayah tempat tinggalnya pada dua tahun lalu. Namun, jumlah unggas yang mati lebih banyak tahun ini. Rata-rata tiap orang yang memelihara unggas mengalami kerugian Rp 1,5 juta.

    Ia juga mengaku tidak pernah memvaksin unggas-unggas peliharaannya dan hanya diberi vitamin. Ia beralasan sosialisasi yang diberikan petugas kesehatan hewan minim dan tidak sampai ke lapis bawah. Selama ini ia memelihara unggas dengan menjaga kebersihan kandang sehingga tidak berbau.

    Kasi Keswan dan Kesmavet Dinas Pertanian DIY Anung E.S. membenarkan ada laporan dari warga di Karangwaru, Tegalrejo, Yogyakara, soal kematian unggas secara mendadak yang diduga karena flu burung. "Saat kami pantau sudah tidak ada kabar kematian dan sekarang sedang dites lagi di Balai Veteriner, Jalan Wates," ucapnya.

    Pada 2015, Dinas Pertanian DIY mencatat enam kasus flu burung yang mematikan ribuan unggas. Lokasi kejadian berada di Sidorejo, Lendah, Kulonprogo; Gulurejo, Lendah, Kulonpogo; Piyaman, Wonosari, Gunungkidul; serta tiga kasus di Sleman, yakni di Moyudan, Condongcatur, dan Minggir.

    Ia mengklaim kasus flu burung di DIY cenderung menurun tiap tahun karena pemerintah sudah berupaya untuk melakukan penanggulangan, antara lain vaksinasi, pemberian alat tes, dan penyemprotan disinfektan.

    SWITZY SABANDAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.