Kapolri Tegaskan Operasi Tinombala Tetap Dilanjutkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolri Jendral Polisi Badrodin Haiti. TEMPO/Frannoto

    Kapolri Jendral Polisi Badrodin Haiti. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Jakarta - Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menegaskan, Operasi Tinombala di Poso, Sulawesi Tengah, akan tetap dilanjutkan. Menurut dia, operasi untuk memburu kelompok Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso akan dilakukan hingga September 2016.

    "Operasi tetap kami lanjutkan sampai batas waktu tertentu agar semua kekuatan dari kelompok teroris ini bisa kami lumpuhkan," ujar Badrodin Haiti di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta, Selasa, 22 Maret 2016.

    Menurut Badrodin, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo juga sempat memberikan motivasi kepada para anggotanya. Harapannya, dengan motivasi tersebut, semua anggota tergerak dan tetap bersemangat membekuk kelompok hingga ke akarnya.

    "Kemarin, Pak Panglima TNI memberikan semangat kepada pasukan TNI maupun Polri untuk terus melakukan tugasnya dengan baik. Maka, operasi ini akan terus berjalan," tuturnya.

    Operasi Tinombala ditujukan untuk menangkap kelompok Santoso, dimulai pada 10 Januari 2016. Awalnya, operasi ini direncanakan selesai pada 9 Maret 2016. Namun operasi diperpanjang hingga 6 bulan ke depan. Selama operasi, terjadi beberapa kali baku tembak tim kepolisian dan TNI dengan kelompok santoso.

    Dalam baku tembak terakhir, dua orang, yang diduga teroris kelompok tersebut, tewas. Sementara itu, beberapa waktu lalu, Helikopter seri Bell milik TNI AD jatuh dan menyebabkan 13 orang anggota tewas.

    Sempat ada dugaan helikopter jatuh akibat serangan teror kelompok Santoso. Namun, hingga saat ini, Mabes TNI dan Polri masih menginvestigasi penyebab kecelakaan. Dugaan sementara, helikopter jatuh karena cuaca buruk.



    INGE KLARA SAFITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.