Hari Air, Aher Usul Haramkan Buang Sampah Ke Sungai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Ahmad Heryawan dan Ketua KPPU Syarkawi Rauf (paling kanani) membahas tingginya harga ayam dengan pedagang saat sidak ke Pasar Suci, Bandung, Jawa Barat, 24 Januari 2016.  Harga ayam di pasar masih sangat mahal dikisaran Rp 38.000 sampai Rp 39.000 per kg. TEMPO/Prima Mulia

    Gubernur Ahmad Heryawan dan Ketua KPPU Syarkawi Rauf (paling kanani) membahas tingginya harga ayam dengan pedagang saat sidak ke Pasar Suci, Bandung, Jawa Barat, 24 Januari 2016. Harga ayam di pasar masih sangat mahal dikisaran Rp 38.000 sampai Rp 39.000 per kg. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mewacanakan pemberian fatwa haram pada perilaku membuang sampah ke sungai. “Pada hari ini saya harus mengatakan, mengotori air, membuang limbah ke air, limbah rumah tangga, limbah ternak ke sungai, limbah pabrik itu hukumnya haram dalam cara pandangan kita,” kata dia disela peringatan Hari Air Sedunia yang jatuh hari ini di Tamah Hutan Raya Juanda, Bandung, Selasa, 22 Maret 2016.

    Aher, sapaan Ahmad Heryawan beralasan, wacana haram itu menjadi alternatif saat pendekatan hukum positif saat ini gagal melindungi air. “Sudah sangat sulit menggunakan pendekatan hukum positif. Merusak air salah, merusak air berbahaya, tidak mempan. Tetap saja orang tidak merasa berdosa membuang limbah ke sungai,” kata dia.

    Kendati mewacanakan itu, Aher mengaku belum berniat meminta Majelis Ulama Indonesia membahas serius penjatuhan fatwa haram membuang sampah ke sungai. “Saya kira sosialisasi dulu saja ke masyarakat, say khawatir kalau ada fatwa tidak disosialisasikan pada masyarakat, masalahnya menjadi fatwa ompong. Tidak dipahami dan dimengerti masyarakat, bahkan gak dilaksanakan,” kata dia.

    Dia mengkritik pemilik pabrik yang masih membuang limbah langsung ke sungai. “Pemilik pabrik bukan orang awam, adakah pemilik pabrik bukan sarjana? Adakah pengusaha lulusan SD? Tidak ada. Tapi ternyata gagal memahami air,” kata Aher.

    Aher mengaku khawatir jika membludaknya pasien di berbagai jenjang fasilitas kesehatan itu bukan disebabkan oleh program pemerintah yang menggratiskan layanan kesehatan lewat program BPJS Kesehatan. “Jangan-jangan masyrakat sakitnya gara-gara konsumsi air kotor, karena air bersih di negeri kita baru tersedia akesnya untuk 65 persen penduduk, 35 persen disinyalir mengkonsumsi air yang belum dijamin kebersihannya,” kata dia.

    Menurut Aher, masyarakat saat ini menghadapi kondisi air melimpah sekaligus krisis air bersih. Padahal dengan pembenahan kultur masyarakat untuk menghargai air bisa sekaligus menekan biaya pengolahannya yang ujungnya harga air menjadi makin murah. “Ketika sumber air PDAM di Bandung dan Jakaerta atau kota-ktoa lainya airnya sangat kotor, malah sangat panjang proses pengolahannya. Dampaknya per kubiknya dijual ke masyarakat mahal,” kata dia.

    Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Jawa Barat Eddy S Nasution mengatakan, Resolusi PBB Nomor 147 tahun 1993 yang menetapakan hari ini, 22 Maret sebagai Hari Air Sedunia. “Pada tahun 2016, tema peringatannya adalah ‘Water and Jobs’. Air yang lebih baik untuk pekerjaan yang lebih baik,” kata dia di sela peringatan itu, Selasa, 22 Maret 2016.

    Eddy mengatakan, salah satu alasan tema peringatan itu karena lebih dari 1,5 miliar orang di dunia ini bekerja di bidang yang berkaitan langsung dengan air. “Maksud peringatan hari air ini untuk memusatkan perhatian masyarakat pada pentingnya meningkatkan kepedulian atas menurunnya kuantitas dan kualitas air yang tersedia,” kata dia.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.