Dua Siswa di Bima Berhenti Sekolah, Capek Jalan Kaki 6 Kilo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pelajar sekolah dasar. ANTARA/Wahyu Putro A

    Ilustrasi pelajar sekolah dasar. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Bima -- Dua pelajar SMP Negeri 1 Lambu, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Hadijah dan Sumarni. berhenti sekolah karena tidak kuat jalan kaki sejauh 6 kilometer. “Saya terpaksa tidak sekolah karena terlalu capek kalau berjalan kaki dari rumah ke sekolah," kata Hadijah, Senin, 21 Maret 2016.

    Awalnya jarak yang jauh tidak menjadi penghalang untuk menuntut ilmu. Tapi lama kelamaan rasa capek dibalut peluh, dirasakan Hadijah hingga memaksanya berhenti sekolah. “Setiap hari saya jalan kaki pulang-pergi dari rumah ke sekolah. Lama kelamaan saya tidak kuat lagi,” kata remaja perempuan ini.

    Hadijah menuturkan, bapaknya kadang-kadang memberi dia uang buat sewa ojek ke sekolah. Tetapi jika terus-menerus setiap hari menyewa jasa ojek. “Bapak mendapatkan uang dari mana karena penghasilan yang tidak seberapa. Belum lagi harus membiayai kehidupan keseharian keluarga,” tutur Hadijah.

    Baca juga: Siswa Belajar di kolong Rumah Warga, Sekolah Disalahkan

    Hadijah dua tahun terakhir masih tinggal bersama kakaknya. Ketika naik kelas 3, Hadijah tidak lagi tinggal bersama karena kakaknya sudah menikah. Saat ini, Hadijah kembali tinggal bersama orangtuanya di sekitar areal persawahan di Desa Lanta, Kecamatan Lambu.

    Hal yang sama dituturkan Sumarni, siswi SMP Negeri 1 Lambu yang juga tidak ke sekolah karena jarak yang dianggap cukup jauh. Faktor ekonomi keluarga yang pas-pasan membuatnya tidak bisa menggunakan jasa ojek.

    Hadijah dan Sumarni sama-sama mengaku jika ada sepeda butut saja, mereka akan senang hati mengayuh demi mendapatkan pendidikan. Paling tidak, sepeda butut tersebut bisa mengurangi letih dan hemat waktu.

    Mendengar kabar dua gadis belia itu berhenti sekolah karena jarak sekolah yang jauh, Komunitas Pramuka Peduli melalui Koordinator Satgas Pramuka Peduli Lambu, Mashudin, menyambangi kediaman mereka. Mashudin saat itu, mendapatkan cerita dari dua siswi tersebut.

    Baca juga: Siti Sa'adah, Kisah Pengabdian Seorang Guru Tuna Netra

    Kepada Koordinator Satgas Pramuka Peduli Lambu, Mashudin, Arief meminta agar melaporkan hal itu kepada UPTD Dikpora Lambu dan Kepala SMP Negeri 1 Lambu.

    "Kalau tidak ada tindaklanjut dari UPTD dan kepala sekolah, Komunitas Pramuka Peduli akan menggalang dana dan memberikan bantuan sepeda untuk Hadijah dan Sumarni,” kata Arief.

    Arief berharap ada donatur dan relawan yang peduli terhadap kondisi Hadijah dan Sumarni. "Saya berharap masalah ini segera bisa diatasi. Kasihan kan, hanya karena jarak Hadijah dan Sumarni tidak bisa menikmati pendidikan,” kata Arief.

    Kepala Dikpora Kabupaten Bima, Tajudin mengtaakan akan mengecek keberadaan dua siswa yang berhenti sekolah karena tak sanggup jalan kakai sepanjang 6 kilometerb tersebut. “ Kami akan mememeriksa mengapa sampai kedua siswa tidak mau sekolah lagi,” kata Tajudin, Senin 21 Maret 2016.

    AKHYAR M NUR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.