Masuk Bursa Penantang Ahok, Ini Komentar Budi Waseso

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso dalam paparannya dihadapan pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan pimpinan fraksi DPR di Gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur, 4 Maret 2016. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso dalam paparannya dihadapan pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan pimpinan fraksi DPR di Gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur, 4 Maret 2016. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Kepala Badan Narkotika Nasional Budi Waseso ogah memikirkan ataupun menanggapi lebih jauh kabar ia masuk radar Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) untuk dijadikan calon Gubernur DKI Jakarta menantang Basuki Tjahaja Purnama. Menurut Budi Waseso, hal itu sebaiknya ditanyakan lagi saja ke Gerindra. 

    "Tanya Gerindra dong, jangan tanya saya. Saya sendiri belum tahu soal itu. (Lagi pula), saya kan kerja di BNN. Begitu saja sudah," ujar Budi saat dicegat di Kompleks Istana Merdeka, Senin, 21 Maret 2016. 

    Partai Gerindra membidik sejumlah tokoh yang dianggap layak untuk diusung sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Salah satu nama yang dibidik adalah Kepala Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Budi Waseso.

    Ketua Tim Relawan Jakarta Bergerak Sufmi Dasco Ahmad mengatakan ada beberapa pertimbangan mengapa Budi masuk ke dalam "radar" mereka. Pertimbangan itu, kata dia, didasarkan pada faktor integritas, prestasi, serta performa Budi selama ini. 

    Budi melanjutkan, apabila dia memang dibidik sebagai calon, ada banyak hal yang harus ia pelajari. Sebab, ia tak begitu paham banyak perihal kerja sebagai kepala daerah. 

    "Kalau saya dicalonkan, saya harus belajar jadi kepala daerah dulu dong, tapi kan sekarang saya sibuk di BNN," ujarnya lebih lanjut. 

    ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.